Kondisi perekonomian saat ini memberikan dampak nyata pada industri otomotif, khususnya di sektor pasar mobil bekas. Gejolak konflik global memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang terus merangkak naik setiap bulannya. Lonjakan harga ini mengubah preferensi dan kebiasaan konsumen saat hendak memboyong mobil bekas. Keberadaan QR code atau barcode BBM subsidi kini menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum transaksi dilakukan. Selisih Harga BBM Sangat Jauh Saat ini harga BBM non-subsidi, baik untuk mesin diesel maupun bensin, sudah terbilang sangat tinggi. Untuk varian diesel, Dexlite kini dibanderol Rp 23.700 per liter dan Pertamina Dex menyentuh Rp 25.200 per liter. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Sementara, untuk varian bensin, Pertamax Rp 15.950 per liter, Pertamax Green 95 dijual Rp 19.150 per liter, dan Pertamax Turbo mencapai Rp 19.600 per liter. Kondisi tersebut membuat BBM subsidi seperti Bio Solar (Rp 6.800 per liter) dan Pertalite (Rp 10.000 per liter) menjadi incaran. Selisih harga antara Bio Solar dan BBM diesel non-subsidi bahkan hampir menyentuh Rp 20.000 per liter, sedangkan Pertalite lebih murah sekitar Rp 10.000 dibandingkan Pertamax. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Barcode Subsidi Jadi Syarat Jual Beli Toni, Pemilik Diler Gabe Mobilindo di Pasar Mobil Kemayoran, mengungkapkan bahwa para calon pembeli kini menanyakan ketersediaan barcode BBM subsidi untuk unit yang dilirik. "Sekarang kita juga bikin barcode. Pengaruh, pasti orang mau beli tanya, ada barcode-nya enggak. Ya semenjak BBM naik, orang cari mobil bekas yang ada barcode-nya," ujar Toni kepada Kompas.com, Jumat (25/9/2026). Toni menambahkan, keberadaan barcode ini sangat krusial terutama bagi konsumen yang mengincar kendaraan berkapasitas mesin besar karena konsumsi bahan bakarnya yang cenderung lebih banyak. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Hal senada disampaikan oleh Hendrik, Pemilik Diler Auto 95. Menurutnya, kepemilikan barcode BBM subsidi kini menjadi faktor penentu keputusan konsumen dalam membeli mobil bekas. "Selalu tanya barcode BBM subsidi, kalau enggak ada barcode dia enggak mau, mau yang Pertalite atau Biosolar. Mobil seperti Gran Max, Kuda, Avanza, sampai Innova bensin pasti ditanyakan barcode-nya," kata Hendrik. Beda Biaya Pengisian Hingga Jutaan Rupiah Jika dihitung, perbedaan biaya pengisian bahan bakar antara BBM subsidi dan non-subsidi memang sangat signifikan. Sebagai gambaran, untuk mengisi penuh tangki Toyota Fortuner bermesin diesel dengan kapasitas 80 liter, pemilik hanya perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp 544.000 jika menggunakan Bio Solar. Namun jika diisi Pertamina Dex, biayanya membengkak hingga menembus angka Rp 2 jutaan. Begitu pula pada mobil bensin populer seperti Toyota Avanza yang memiliki kapasitas tangki 43 liter. Pakai Pertalite hanya butuh Rp 430.000. Sementara jika diisi dengan Pertamax, biayanya mencapai sekitar Rp 685.000, atau terdapat selisih Rp 250.000-an untuk sekali pengisian penuh.