PT BYD Motor Indonesia sudah melakukan revisi harga terhadap dua model andalannya, yakni Seal dan Sealion 7. Namun, kenaikan harganya cukup signifikan. Bulan lalu, pada situs resmi BYD, diketahui Seal dibanderol dengan harga Rp 639 juta untuk tipe Premium. Sealion 7 tipe Premium dibanderol Rp 629 juta. Memasuki bulan Oktober 2026, varian yang tersisa tinggal Premium Extended Range untuk Seal dan harganya meningkat jadi Rp 869 juta. BYD resmi meluncurkan pembaruan Seal di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Rabu (21/5/2025). Sementara Sealion 7, hanya tersisa varian Extended 5-seater dengan harga Rp 879 juta. Sebelumnya, ada Sealion 7 varian Premium (RWD) seharga Rp 629 juta dan Performance (AWD) seharga Rp 719 juta. Head of Marketing, PR & Government Relation PT BYD Motor Indonesia Luther T. Panjaitan, mengatakan, memang Seal dan Sealion terbaru mengalami kenaikan harga di pembelian baru ke depan. Lavender Grey Jadi Warna Baru "Dikarenakan terdapat penyegaran produk, khususnya di jarak tempuh atau kapasitas baterai, serta terdapat new color option yang lebih cerah," ujar Luther, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. BYD Sealion 7 di IIMS 2026 Luther menambahkan, baik Seal dan Sealion 7 yang dipasakan di Indonesia saat ini, masih mengandalkan Blade Battery generasi pertama. Sedangkan pilihan warna barunya adalah Lavender Grey. Jika melihat spesifikasinya, kedua model tersebut kini dibekali dengan baterai berkapasitas 82,56 kWh. Jarak tempuhnya mencapai 650 km untuk Seal dan 567 km untuk Sealion 7. Insentif Impor Mobil Listrik Berakhir Selain penyegaran produk, perubahan kebijakan insentif pemerintah juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat perkembangan harga mobil listrik di Indonesia. Sebelumnya, pemerintah memberikan insentif untuk mobil listrik yang diimpor secara utuh atau completely built up (CBU). Fasilitas tersebut memungkinkan produsen memenuhi pasar Indonesia dengan mobil listrik impor tanpa menanggung seluruh beban pajak yang berlaku dalam skema normal. Namun, fasilitas insentif tersebut tidak lagi diberikan sejak awal tahun 2026. Berakhirnya kebijakan ini tentunya membuat produsen perlu menyesuaikan strategi bisnis, terutama bagi merek yang masih mengandalkan pasokan kendaraan dari luar negeri. Ketika insentif impor tidak lagi berlaku, biaya yang harus ditanggung produsen berpotensi meningkat. Dampaknya terhadap harga jual dapat berbeda-beda, bergantung pada struktur pajak kendaraan, biaya logistik, nilai tukar, serta strategi penetapan harga masing-masing perusahaan. Kondisi tersebut menjadi relevan untuk melihat posisi BYD di Indonesia. Pasalnya, Seal dan Sealion 7 merupakan mobil listrik yang sebelumnya dipasarkan dengan harga kompetitif di segmen sedan listrik dan SUV listrik premium.