Abu vulkanik setelah erupsi gunung berapi tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dapat meningkatkan risiko bagi pengguna kendaraan. Dalam kondisi abu vulkanik sudah cukup tebal dan mulai membahayakan, masyarakat disarankan tidak memaksakan diri untuk tetap melakukan perjalanan. Pendiri sekaligus instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan menunda perjalanan merupakan pilihan paling aman ketika kondisi jalan sudah dipenuhi abu vulkanik. “Jadi, kalau melihat abu vulkanik ini sudah berkontribusi terhadap bahaya, sudah tebal dan sebagainya, untuk sementara sebaiknya menunda perjalanan," katanya kepada Kompas.com, Minggu (6/9/2026). Guyuran hujan abu menempel di kendaraan milik warga Lumajang, Rabu (14/1/2026) Menurut dia, keputusan untuk tetap berkendara dalam kondisi tersebut justru dapat meningkatkan risiko, baik bagi pengemudi maupun kendaraan. "Kalau tetap memaksakan, harus mengurangi kecepatan dan melengkapi diri dengan masker agar tidak mengganggu pernapasan," ujarnya. "Namun, yang terbaik adalah mengganti waktu tempuh, atau mengganti moda transportasi, misalnya kalau mau pergi bisa diganti dengan moda online," katanya. Abu Vulkanik Bisa Ganggu Kesehatan Selain berdampak terhadap keselamatan berkendara, abu vulkanik juga perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan. HUJAN ABU: Tampak kendaraan mobil yang diparkir di parkiran Bandara Sam Ratulangi, Manado, dipenuhi abu vulkanik Gunung Ruang, Selasa (30/4/2024) pukul 15.17 Wita. Jusri mengatakan, partikel abu yang beterbangan dan terhirup dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan abu vulkanik juga dapat mengganggu mata, terutama ketika seseorang berada di luar ruangan dalam waktu cukup lama. “Pengaruhnya terhadap kesehatan antara lain ISPA dan gangguan pada mata,” ujarnya. Karena itu, penggunaan masker dan kacamata bermotor (goggles) menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan apabila masyarakat terpaksa harus beraktivitas di tengah kondisi yang dipenuhi abu vulkanik. Mesin Jusri juga mengingatkan bahwa dampak abu vulkanik tidak berhenti pada keselamatan dan kesehatan. Abu vulkanik Gunung Semeru menempel di kendaraan warga, Selasa (14/5/2024) Kendaraan yang digunakan di tengah kondisi tersebut juga berpotensi mengalami masalah, terutama pada sistem penyaringan udara. Abu vulkanik yang berukuran sangat halus dapat menumpuk pada filter udara. Jika jumlahnya terlalu banyak, kemampuan filter untuk mengalirkan dan menyaring udara dapat terganggu. “Dari sisi ekonomi, debu vulkanik ini akan menumpuk di filter dan memengaruhi durabilitas mesin. Debu bisa masuk ke mesin jika filter tidak mampu menyaringnya," kata Jusri. "Akibatnya, selain ketahanan mesin terganggu, konsumsi bahan bakar juga bisa terpengaruh,” ujarnya.