Abu vulkanik yang menempel di mobil tidak boleh dianggap sepele, meski hanya terlihat tipis di permukaan bodi. Cara membersihkannya yang tidak tepat justru bisa membuat cat mobil baret. Selain berisiko merusak lapisan cat, abu vulkanik dalam jumlah tebal juga dapat mengganggu komponen mesin, terutama jika menumpuk pada filter udara dan kisi radiator. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan, abu vulkanik mengandung partikel abrasif yang bisa menggores cat jika dilap dalam kondisi kering. Bahkan, abu yang tipis sekalipun tetap berisiko membuat baret sehingga sebaiknya dibilas terlebih dahulu sebelum dibersihkan. “Sebenarnya abu vulkanik hampir tidak pernah merusak mobil hanya karena ia mendarat di sana; yang merusak justru apa yang terjadi sesudahnya, yaitu apakah ia digosok atau dibiarkan basah,” kata Yannes kepada Kompas.com, Jumat (11/9/2026). Ia menjelaskan, satu kali usapan pada permukaan yang terdapat abu vulkanik sudah cukup untuk membuat partikel tersebut bergeser di atas cat. Membersihkan debu vulkanik harus dengan hati-hati, jangan sembaragan. Karena membersihkan abu vulkanik perlu dilakukan dengan penanganan khusus. “Soal tebal dan tipis, ketebalan ternyata bukan variabel yang paling menentukan untuk cat, karena sekali usap pada abu tipis pun sudah cukup meninggalkan baret,” katanya. Abu yang hanya menempel tipis pada bodi mobil sering kali dianggap tidak berbahaya. Padahal, kondisi tersebut justru dapat membuat pemilik kendaraan tergoda untuk segera membersihkannya menggunakan lap kering. “Malah paparan tipis sering lebih berisiko, sebab terlihat sepele sehingga orang tergoda melapnya kering,” ucapnya. Karena itu, pemilik mobil sebaiknya membilas bodi dengan air terlebih dahulu agar abu terangkat sebelum dibersihkan. Setelah abu terangkat, mobil bisa dicuci seperti biasa, tetapi hindari menggosok permukaan yang masih dipenuhi abu karena berisiko membuat cat baret. Berbeda dengan cat, ketebalan abu mulai berpengaruh pada mesin karena dapat menumpuk di filter udara dan kisi radiator, mengganggu aliran udara, serta berpotensi menghambat pendinginan mesin. “Ketebalan baru benar-benar berbeda pengaruhnya pada mesin, karena filter udara yang tersumbat dan kisi radiator yang tertutup adalah soal volume, bukan sentuhan, dan itu sudah bukan urusan kosmetik lagi melainkan urusan bengkel,” katanya. Karena itu, mobil yang terkena abu cukup tebal sebaiknya tidak hanya dibersihkan bagian luarnya, tetapi juga diperiksa pada komponen yang berpotensi menumpuk abu. Sementara abu tipis cukup dibilas terlebih dahulu tanpa mengusap permukaannya dalam kondisi kering. “Jadi untuk abu tipis di Jabodetabek, cukup jangan disentuh kering dan bilas sebelum kena embun malam,” katanya.