Gelombang masuknya pabrikan otomotif asal China ke Indonesia terus bertambah. Namun, tidak semua merek langsung membangun fasilitas produksi sendiri. Sebagian masih memanfaatkan fasilitas perakitan milik pihak lain, sementara sejumlah komponen kendaraannya masih didatangkan dari China. "Pasar EV nasional masih didominasi oleh kendaraan CBU, sehingga kebutuhan terhadap komponen yang diproduksi secara lokal belum sepenuhnya berkembang," kata Presiden Direktur PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) Irianto Santoso, kepada Kompas.com (7/9/2026). Suasana Pameran GIIAS 2026 Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap komponen yang diproduksi secara lokal belum berkembang secara maksimal. Menurut dia, situasi tersebut justru menjadi kesempatan bagi industri komponen untuk mempersiapkan diri sejak dini. Sebagai salah satu produsen komponen lokal, DRMA mulai menyiapkan kapasitas, teknologi dan portofolio produk agar dapat memenuhi kebutuhan ketika tingkat lokalisasi industri EV semakin tinggi. Ilustrasi pabrik komponen Dharma Polimetal Vendor Lokal Siapkan Diri Irianto mengatakan, DRMA berupaya mengambil bagian dalam pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik dan mobilitas hijau di Indonesia. Salah satunya dengan mengembangkan berbagai produk pendukung kendaraan listrik sekaligus mendorong peningkatan kandungan lokal. Menurut dia, perusahaan tidak hanya ingin mempertahankan posisi sebagai pemasok komponen otomotif, tetapi juga mengambil peran dalam membangun ekosistem EV yang lebih terintegrasi. Pabrik BYD di Subang ditargetkan menyerap hingga 20.000 tenaga kerja lokal saat mencapai kapasitas produksi penuh. Langkah tersebut menjadi penting di tengah semakin banyaknya merek China yang masuk ke pasar Indonesia. Model perakitan melalui fasilitas pihak ketiga dapat menjadi tahap awal sebelum pabrikan memperbesar produksinya dan memperdalam rantai pasok di dalam negeri. Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai, skema contract manufacturing memang masih relevan bagi merek baru yang ingin masuk ke Indonesia. Namun, strategi tersebut tidak cukup jika pabrikan ingin memenuhi target pemerintah terkait pendalaman industri dan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 60 persen. Fasilitas perakitan mobil Aletra di PT Handal Indonesia Motor (HIM), Purwakarta, Jawa Barat Volume Produksi Jadi Penentu Martin mengatakan, tantangan berikutnya adalah memastikan pemasok lokal mendapatkan kepastian volume pesanan. Sebab, lokalisasi komponen yang spesifik untuk setiap merek dan varian membutuhkan investasi yang tidak kecil. "Walaupun satu fasilitas bisa menangani beberapa merek dengan platform dan volume berbeda, tetapi lokalisasi komponen yang spesifik untuk setiap brand dan variannya jelas membutuhkan kepastian volume minimal pesanan," ujar Martin, kepada Kompas.com belum lama ini. Peresmian pabrik BYD di Subang, Kamis (3/9/2026). Kepastian tersebut diperlukan agar pemasok memiliki perhitungan keekonomian yang jelas sebelum berinvestasi pada mesin, teknologi maupun kapasitas produksi baru. Karena itu, merek dengan volume penjualan relatif kecil kemungkinan perlu membangun kemitraan lebih dalam dengan pemasok domestik. Alternatif lainnya adalah menggunakan komponen lokal yang dapat dipakai lintas model sehingga skala produksinya lebih ekonomis.