Di tengah transisi pasar kendaraan listrik, pelaku industri menilai persoalan utama bukan lagi soal besar-kecilnya insentif, melainkan kepastian arah kebijakan. Regulasi yang berubah-ubah justru dinilai menimbulkan efek psikologis bagi konsumen, membuat pasar bergerak tertahan meski minat terhadap kendaraan listrik terus tumbuh. Pemerintah sebelumnya sempat menggulirkan berbagai stimulus, mulai dari Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk mobil listrik hingga subsidi motor listrik. Namun, skema yang kerap berganti dan belum memiliki kepastian kelanjutan dinilai menciptakan pola wait and see di kalangan calon pembeli. CEO Haka Auto, mitra diler BYD, Hariyadi Kaimuddin, menilai, pasar kendaraan listrik di Indonesia sejatinya masih memiliki ruang tumbuh, bahkan tanpa insentif pemerintah. Namun, ketidakjelasan kebijakan justru menjadi penghambat utama. “Kalau saya sih insentif sebaiknya tidak ada sekalian. Karena ini menyebabkan timbulnya ketidakpastian terhadap pasar kendaraan listrik di Indonesia,” ujar Hariyadi di Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026). Menurut dia, wacana insentif yang terus berubah membuat konsumen menunda pembelian dengan harapan adanya potongan harga tambahan. Dalam kondisi tersebut, pasar tidak benar-benar bergerak, meski kebutuhan dan minat sudah ada. “Pasar EV itu lebih baik yang pasti-pasti saja. Jangan digantung, karena pelanggan justru menahan pembelian,” katanya. BYD Atto 1 di IIMS 2026 Pengalaman serupa pernah ia rasakan ketika terlibat dalam bisnis motor listrik saat pemerintah memberikan subsidi Rp 7 juta per unit. Kala itu, harga motor listrik yang sebelumnya berada di kisaran Rp 22 juta turun menjadi sekitar Rp 15 juta, dan penjualan langsung terdongkrak signifikan. Namun, kondisi berbalik ketika insentif berakhir. Penjualan kembali melambat, bahkan nyaris berhenti, terutama saat muncul janji bahwa subsidi akan kembali diberikan tanpa kepastian waktu. “Dijanjikan akan ada lagi tahun depan. Selama masa tunggu itu, hampir tidak ada transaksi. Konsumen semua menahan diri,” ujarnya. Di sisi lain, Hariyadi menilai pasar mobil listrik mulai memasuki fase yang lebih matang. Perkembangan teknologi dan efisiensi produksi membuat harga kendaraan listrik semakin rasional dan kompetitif dibandingkan mobil konvensional. Sejumlah model, menurut dia, kini tidak lagi diposisikan sebagai kendaraan sekunder, melainkan sudah layak menjadi mobil utama keluarga. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor fundamental pasar sebenarnya sudah mulai terbentuk. “Teknologinya makin canggih, harganya makin turun. Secara produk, EV sekarang sudah bisa bersaing,” ucapnya. Karena itu, ia menilai kepastian kebijakan jangka menengah dan panjang menjadi faktor kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia. Tanpa arah regulasi yang jelas, potensi pasar berisiko kembali tertahan meski produk dan harga semakin kompetitif. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang