Di saat sejumlah pabrikan asal China mulai menawarkan pikap dengan teknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), Toyota justru memilih mengambil langkah berbeda. Pabrikan asal Jepang tersebut menilai teknologi PHEV saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan kendaraan niaga yang mengutamakan daya angkut dan kemampuan menarik beban. Kini, Toyota Hilux generasi terbaru telah tersedia dengan berbagai pilihan mesin, mulai dari diesel, mild hybrid, hingga versi listrik murni (BEV). Toyota juga menyiapkan varian berbahan bakar hidrogen (FCEV) yang dijadwalkan meluncur pada 2028. Toyota Hilux BEV alias Hilux Travo-e Sementara beberapa rival sudah lebih dulu mengadopsi teknologi PHEV. Misalnya Ford Ranger di sejumlah pasar global, serta pikap asal China seperti BYD Shark 6, GWM Cannon Alpha, Nissan Frontier Pro, hingga Chery Stockman yang akan segera diperkenalkan. Padahal, Toyota dikenal memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan kendaraan hybrid maupun plug-in hybrid. Khawatir Kemampuan Angkut Berkurang Senior Manager Product Planning and Pricing Toyota Australia, Ray Munday, mengatakan pihaknya memahami persaingan di segmen pikap PHEV semakin ketat. Namun, perseroan tidak ingin terburu-buru menghadirkan produk yang belum memenuhi standar perusahaan. "Memang ada persaingan yang kuat di segmen ini dan kami terus mempelajarinya. Namun, sampai teknologinya benar-benar siap, kami tidak akan meluncurkan produk secara terburu-buru," ujar Munday dikutip Carscoops, Rabu (8/7/2026). Menurut dia, tantangan utama kendaraan PHEV terletak pada bobot tambahan akibat baterai dan sistem elektrifikasi. Kondisi tersebut dapat mengurangi kapasitas angkut sekaligus kemampuan menarik beban (towing). "Saat ini sistem PHEV belum sepenuhnya mampu memenuhi standar kami, terutama untuk kebutuhan towing berat yang menjadi karakter pelanggan Hilux," kata Munday. Ia menambahkan, ekspektasi konsumen terhadap merek Toyota, khususnya Hilux, sangat tinggi. Karena itu, setiap teknologi baru harus benar-benar mampu memberikan performa sesuai harapan pelanggan. Siluet Toyota Hilux BEV Fokus pada Kebutuhan Pengguna Pikap Toyota menilai kemampuan kerja sebuah pikap tidak boleh dikompromikan hanya demi menghadirkan teknologi elektrifikasi. Sebagai gambaran, Hilux bermesin diesel mampu menarik beban hingga 3.500 kilogram dengan kapasitas angkut sekitar 1 ton. Sementara itu, Hilux BEV bermotor ganda hanya memiliki kemampuan towing sekitar 2.000 kilogram. Perbedaan tersebut menjadi salah satu alasan Toyota belum yakin menerapkan sistem PHEV pada Hilux. Wakil Presiden Sales, Marketing, and Franchise Operations Toyota Australia, John Pappas, mengatakan perusahaan sebenarnya terus mengevaluasi berbagai pilihan teknologi penggerak. Namun, setiap pengembangan harus mampu memenuhi kebutuhan pelanggan di dunia nyata. "Kami terus mempelajari berbagai solusi powertrain. Namun, teknologi tersebut harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan konsumen. Investasi riset dan pengembangan yang kami lakukan harus menghasilkan produk yang tepat untuk pasar," kata Pappas. Untuk saat ini, Toyota masih akan memprioritaskan pengembangan teknologi PHEV pada mobil penumpang dan SUV. Adapun penerapannya pada kendaraan pikap baru akan dipertimbangkan setelah teknologi tersebut dinilai mampu mempertahankan kapasitas angkut dan kemampuan towing setara model bermesin diesel.