Selain karena daya beli masyarakat yang mulai menurun, kehadiran mobil listrik murah di Indonesia juga berdampak pada segmen konvensional setara, yakni low cost green car (LCGC). Kondisi ini terlihat dari performa penjualan sepanjang 2025. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi LCGC dari pabrik ke diler (wholesales) selama 2025 hanya mencapai 122.686 unit. Jumlah tersebut menyusut signifikan, sekitar 30 persen dibandingkan 2024. Melihat kondisi tersebut, merek yang memasarkan LCGC harus menyiapkan strategi untuk menarik minat masyarakat. Daihatsu, misalnya, telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mendongkrak penjualan produknya. Daihatsu Ayla di GIIAS 2025 Direktur Marketing dan Corporate Communication PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Sri Agung Handayani, mengatakan pihaknya berupaya memberikan kemudahan kepemilikan kendaraan kepada masyarakat. “Strateginya memberikan kemudahan. Kami memiliki value chain Astra yang kuat untuk pembiayaan, sehingga mempermudah soal down payment (DP), suku bunga, dan tenor pembayaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen,” ujar Agung kepada media di Jakarta. Dari sisi produk, khusus segmen LCGC, Daihatsu memiliki model paling terjangkau bermesin 1.0L yang berkontribusi besar di daerah nonperkotaan. Model tersebut adalah Daihatsu Sigra 1.000 cc dengan harga mulai Rp 143,2 juta serta Ayla 1.000 cc Rp 140,2 juta on the road (OTR) Jakarta. Daihatsu Sigra di GJAW 2025 Dibandingkan LCGC lain seperti Honda Brio Satya maupun Toyota Agya dan Calya, kedua model Daihatsu tersebut menjadi yang paling terjangkau. Selain strategi internal, berakhirnya insentif mobil listrik impor dari pemerintah juga berpotensi mendorong penjualan LCGC pada 2026. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang