— Populasi mobil listrik yang meningkat membawa tantangan baru pada penggunaan di lapangan, salah satunya antrean di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Kondisi ini kadang memicu gesekan antarpengguna, terutama ketika ada pemilik mobil listrik yang memanfaatkan area SPKLU sebagai tempat parkir setelah proses pengisian daya selesai. Keluhan ini disampaikan salah satu pengguna mobil listrik di grup Facebook BYD Atto 1 Indonesia, yang kesal karena ada mobil yang tetap parkir di area pengecasan padahal sudah selesai mengisi daya. "Kalo orang yg pnya mobil ini ada di grup ini, please lu gatau malu bgt kaya org baru punya mobil listrik, lu udh beres ngecas hrsnya lu pindahin, sadar diri, lu udh ada apk yg ngasih tau mobil lu udh beres dicas. lu ngecas bukan berarti sekaligus jadi tempat parkir. Mikir dikit orang laen yg mau ngecas jadi kehambat dan abis waktu gr" nungguin lu keluar. Sampah bgt otaknya, hrsnya yg kaya gini tuh didenda sama PLN atau siapin towing jaga" org kaya gini. Gua udh nungguin 30mnt dan pihak mall aja udah sampe ngumumin utk lu mindahin mobil tapi ga ada orgnya sama sekali. Stress ni orang ga ada otak," tulisnya dikutip Jumat (2/1/2026). Founder Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan masalah seperti ini berawal dari kurangnya empati pengguna jalan terhadap pengguna lain. “Iya, ini yang menjadi biang kerok terjadinya pelanggaran. Sebetulnya kuncinya adalah empati. Empati itu merupakan syarat mutlak bagi para pengemudi ketika mengoperasikan kendaraan di jalan,” ujar Jusri kepada Kompas.com, Jumat (2/1/2026). Jusri menegaskan bahwa jalan dan fasilitas pendukungnya merupakan ruang publik. Artinya, setiap pengguna harus saling menghargai dan memahami bahwa fasilitas tersebut digunakan bersama. Keluhan di facebook mengenai mobil listrik tetap parkir di area pengecasan SPKLU. “Ini ruang publik, banyak orang dengan kondisi berbeda-beda. Kalau tidak punya empati, kita tidak akan peduli. Termasuk soal parkir sembarangan, termasuk di charging station kendaraan listrik,” katanya. Menurut Jusri, kesadaran menjadi kunci utama. Pengguna kendaraan perlu memahami bahwa aturan dan fasilitas yang disediakan bukan sekadar formalitas, tetapi untuk kepentingan bersama. Situasi seperti ini menunjukkan masih adanya pengguna kendaraan listrik yang belum memahami fungsi SPKLU. “Dengan adanya kesadaran, orang akan paham bahwa kebutuhan di jalan bukan hanya soal aturan atau polisi, tapi kesadaran bersama,” ujar Jusri. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang