Pemerintah Indonesia terus mendorong penggunaan bahan bakar nabati (BBN) sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Setelah menerapkan biodiesel B50, pemerintah kini menyiapkan kebijakan penggunaan bensin E20, yakni bahan bakar yang mengandung campuran etanol sebesar 20 persen. Penggunaan etanol sebagai bahan bakar bukan hal baru. Sejumlah negara telah menggunakannya selama puluhan tahun, termasuk Amerika Serikat. Abad ke-19 Mengutip Badan Informasi Energi Amerika Serikat (Energy Information Administration/EIA) dari ag.ndsu.edu, etanol pertama kali digunakan untuk menggerakkan mesin pada 1826. Ford Model T Kemudian, pada 1876, Nicolaus Otto, penemu mesin pembakaran dalam empat langkah modern, juga menggunakan etanol untuk menggerakkan mesin. Etanol sempat digunakan sebagai bahan bakar penerangan pada 1850-an. Namun, penggunaannya menurun setelah pemerintah AS mengenakan pajak terhadap etanol seperti minuman beralkohol untuk membantu membiayai Perang Saudara. Setelah pajak tersebut dicabut, penggunaan etanol sebagai bahan bakar kembali berkembang. Bahkan, pada 1908, etanol digunakan untuk menggerakkan Ford Model T. Pencampuran etanol dengan bensin kemudian mulai dilakukan pada 1920-an dan 1930-an. Saat itu, etanol digunakan untuk meningkatkan angka oktan bensin. Penggunaan etanol sebagai bahan bakar juga meningkat selama Perang Dunia II akibat kelangkaan bahan bakar. Ilustrasi etanol. Industri Berkembang Etanol Mulai Populer pada 1970-an. Minat terhadap etanol kembali meningkat pada 1970-an. Saat itu, gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah menjadi persoalan serius bagi AS. Pemerintah AS mulai mengurangi penggunaan timbal dalam bensin. Timbal sebelumnya digunakan untuk meningkatkan angka oktan. Kondisi tersebut membuat etanol mulai dilirik sebagai alternatif. Dilansir dari pflpetroleum.com, sejumlah perusahaan minyak kemudian memasarkan etanol sebagai bahan yang dapat meningkatkan angka oktan sekaligus menambah volume bensin. Campuran 10 persen etanol dan 90 persen bensin kemudian dikenal sebagai gasohol atau yang saat ini lebih umum disebut E10. Pada 1978, Pemerintah AS melalui Kongres memberikan insentif berupa pembebasan pajak federal untuk bensin yang mengandung 10 persen alkohol. SPBU Pertamina Kebijakan tersebut membuat etanol lebih kompetitif dibandingkan jika diproduksi tanpa insentif pemerintah. Produksi etanol pun meningkat pesat, dari sedikit di atas 10 juta galon pada 1979 menjadi 175 juta galon pada 1980. Polusi Perkembangan etanol terus berlanjut hingga 1990-an. Salah satu pendorongnya adalah kebijakan pemerintah AS untuk mengurangi polusi udara. Ada dua bahan utama yang digunakan untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam bensin, yakni MTBE dan etanol. Etanol kemudian semakin menarik karena kandungan oksigennya lebih tinggi dibandingkan MTBE. Artinya, volume etanol yang dibutuhkan untuk mencapai kadar oksigen tertentu lebih sedikit. Ilustrasi BBM dengan campuran etanol Namun, etanol juga memiliki kekurangan. Salah satunya adalah tingkat penguapan yang lebih tinggi, terutama ketika digunakan pada cuaca panas. Kondisi ini dapat meningkatkan emisi yang berkontribusi terhadap pembentukan ozon. Penggunaan etanol di AS tidak berhenti pada campuran E10. Kendaraan tertentu dapat menggunakan E85, yakni bahan bakar dengan kandungan sekitar 85 persen etanol dan 15 persen bensin. Kendaraan tersebut dikenal sebagai flex-fuel vehicle. Meski demikian, etanol memiliki kandungan energi lebih rendah dibandingkan bensin. Untuk mendapatkan jarak tempuh yang setara dengan satu galon bensin, dibutuhkan sekitar 1,5 galon etanol. Artinya, penggunaan etanol tidak hanya perlu dilihat dari harga per liternya, tetapi juga dari energi yang dihasilkan dan jarak tempuh kendaraan. Pelajaran Pengalaman AS menunjukkan bahwa keberhasilan penggunaan etanol sebagai campuran bensin tidak hanya bergantung pada kemampuan memproduksi etanol. Pertamina menyebut etanol pada BBM mampu menekan emisi karbon, meningkatkan kualitas udara, sekaligus mendukung perekonomian lokal. Praktik ini sudah lazim diterapkan di banyak negara. Untung Rugi BBM Dicampur Etanol 10 Persen Menurut Ahli Ada sejumlah faktor yang harus disiapkan secara bersamaan, mulai dari ketersediaan bahan baku, biaya produksi, insentif pemerintah, kesiapan kilang dan terminal, hingga sistem distribusi. Hal tersebut menjadi penting bagi Indonesia yang tengah menyiapkan penerapan E20. Jika E20 diterapkan, kebutuhan etanol nasional akan meningkat karena setiap liter bensin harus mengandung sekitar 20 persen etanol. Dengan demikian, kesiapan pasokan dan distribusi etanol menjadi bagian penting agar penerapan E20 dapat berjalan lancar tanpa mengganggu ketersediaan bahan bakar bagi masyarakat. Kebijakan pemerintah, dukungan industri, ketersediaan bahan baku, dan kesiapan infrastruktur harus berjalan beriringan agar penggunaannya dapat berkembang secara berkelanjutan.