Rencana penerapan bensin campuran bioetanol 20 persen atau E20 dinilai perlu diikuti sosialisasi yang masif kepada masyarakat. Sekretaris Kompartemen Pengembang Industri di Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Abdul Rohim mengatakan, sosialisasi diperlukan agar masyarakat memahami penggunaan bahan bakar dengan kadar biofuel yang lebih tinggi. “Diperlukan adanya sosialisasi masif di masyarakat agar masyarakat bisa menerima penggunaan campuran biofuel tinggi tersebut," kata Abdul di acara IndoEBTKE ConEx 2026, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Menurut Abdul, sosialisasi juga penting untuk mencegah kesalahan saat masyarakat memilih bahan bakar di SPBU. Cek harga Pertamax hari ini, Pertamax Turbo, dan Pertamax Green 95 per provinsi yang berlaku sejak 1 Februari 2026. Hal ini terutama karena tidak semua kendaraan memiliki kemampuan yang sama dalam menggunakan bahan bakar dengan kadar bioetanol tinggi. Kemudian penandaan yang jelas pada setiap jenis bahan bakar di SPBU dinilai penting. Agar masyarakat dapat mengetahui jenis bahan bakar yang sesuai dengan kendaraan yang digunakan. "Terakhir, menghindari salah pengisian bahan bakar, terutama campuran tinggi biofuel, perlu adanya tanda yang jelas dipasang di SPBU agar masyarakat tidak salah memilih atau mengisi bahan bakarnya," katanya. Selain itu, Abdul mengusulkan agar bahan bakar fosil murni tetap tersedia bagi kendaraan yang belum dapat menggunakan campuran biofuel berkadar tinggi. "Tetap disediakan bahan bakar fosil fuel murni atau N0 dan B0 untuk kendaraan yang tidak bisa menggunakan bahan bakar campuran tinggi atau kita sebut sebagai protection grid,” ujarnya. Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Jalan Veteran, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026). Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp12.900 per liter naik menjadi Rp17.000 per liter yang berlaku per 10 Juni. Persiapan Pemerintah saat ini tengah menyiapkan penerapan bensin campuran bioetanol secara bertahap. E10 ditargetkan mulai diterapkan pada 2027 sebelum meningkat menuju E20 tahun berikutnya. Untuk mendukung penerapan E20, pemerintah memperkirakan kebutuhan bioetanol mencapai sekitar 4 juta kiloliter per tahun Angka tersebut dihitung berdasarkan konsumsi bensin nasional yang mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun. Pengembangan bioetanol juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan baku domestik. Indonesia memiliki sejumlah bahan baku yang dapat digunakan untuk memproduksi etanol, antara lain tebu, singkong, dan jagung. Petugas mengangkat nozzle mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo usai melayani pelanggan di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Pemerintah menegaskan bahwa harga BBM subsidi maupun nonsubsidi tidak akan mengalami kenaikan dan memastikan pasokan BBM nasional dalam kondisi aman dan tersedia. E20 Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, penerapan E20 terinspirasi dari program mandatori biodiesel yakni pencampuran bahan bakar berbasis minyak sawit dengan solar. "Kalau kita mandatori 20 persen (etanol), berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter (KL)," ungkap dalam keterangan tertulis, Minggu (3/5/2026). Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barrel per hari atau setara dengan 39 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun. Sementara itu, produksi minyak domestik berada di kisaran 600.000 barrel per hari. Dengan demikian, Indonesia masih harus memenuhi sebagian besar kebutuhan BBM melalui impor.