Pemerintah mulai memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian dari persiapan penerapan bahan bakar nabati berbasis bioetanol dengan campuran 20 persen atau E20. Langkah tersebut ditandai dengan pelaksanaan Kick Off Road to E20: Penguatan Stakeholder Engagement Menuju Implementasi E20 yang digelar bersamaan dengan The 12th IndoEBTKE ConEx 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) untuk menyatukan komitmen berbagai pemangku kepentingan dalam mempersiapkan implementasi E20. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengatakan, teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan energi terbarukan, termasuk bahan bakar nabati (biofuels). Ilustrasi BBM. Ilustrasi SPBU. Harga Pertamax Green 95 naik. “Berbicara tentang energi terbarukan, dan terutama sekali pasalnya berbicara mengenai biofuels, kunci nomor satunya adalah teknologi," kata Stella di JIExpo, Kemayoran, Kamis (3/9/2026). "Jadi tadi saya bilang kita punya semua, tapi ada satu yang tanggung, saya pikir hanya sedikit, itu teknologi," katanya. Indonesia memiliki sumber daya yang dapat dikembangkan untuk mendukung transisi energi. Namun, ketersediaan sumber daya tersebut perlu diikuti dengan kemampuan teknologi agar dapat diolah dan dimanfaatkan secara optimal. Peluncuran Program Persiapan Teknis E20 Target E20 Pemerintah sebelumnya menargetkan pencampuran etanol sebesar 20 persen pada bensin atau E20 dapat mulai diterapkan pada 2028. Kebijakan tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM, khususnya bensin. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, penerapan E20 terinspirasi dari program mandatori biodiesel yang saat ini telah mencapai B40, yakni pencampuran 40 persen bahan bakar berbasis minyak sawit dengan solar. "Kalau kita mandatori 20 persen (etanol), berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter (KL)," ungkap dalam keterangan tertulis, Minggu (3/5/2026). Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barrel per hari atau setara dengan 39 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun. Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Jalan Veteran, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026). Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp12.900 per liter naik menjadi Rp17.000 per liter yang berlaku per 10 Juni. Sementara itu, produksi minyak domestik berada di kisaran 600.000 barrel per hari. Dengan demikian, Indonesia masih harus memenuhi sebagian besar kebutuhan BBM melalui impor. Alasan Pemerintah melihat bioetanol sebagai salah satu sumber energi alternatif yang dapat membantu mengurangi kebutuhan impor tersebut. Indonesia juga memiliki sejumlah potensi bahan baku untuk produksi etanol, antara lain singkong, jagung, dan tebu. Dengan penerapan E20, setiap liter bensin akan mengandung 20 persen etanol dan 80 persen bensin, sesuai dengan spesifikasi dan standar bahan bakar yang ditetapkan pemerintah. Program tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi impor BBM, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya domestik serta pengembangan industri biofuel di dalam negeri.