- Polemik mengenai Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali mencuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Isu ini makin naik usai sebelumnya Bahlil Lahadalia selaku Menteri ESDM menyampaikan bahwa cadangan BBM di Indonesia diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 20 hari ke depan. Pernyataan tersebut tentu memicu kepanikan di sejumlah daerah, terutama di wilayah Aceh dan Sumatra Utara. Di beberapa SPBU terlihat antrean kendaraan yang cukup panjang, bahkan sebagian SPBU dilaporkan kehabisan BBM subsidi akibat aksi panic buying dari masyarakat. Melansir Tribunnews, Purbaya Yudhi Sadewa selaku Menteri Keuangan menyampaikan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan berbagai opsi kebijakan, termasuk kemungkinan penyesuaian harga BBM subsidi jika lonjakan harga minyak dunia terus berlanjut dan memberi tekanan besar pada APBN. Menurut Purbaya, pemerintah telah melakukan simulasi terhadap sejumlah skenario kenaikan harga minyak global. Dalam perhitungan tersebut, jika harga minyak rata-rata mencapai sekitar 92 dolar AS per barel, maka defisit anggaran negara berpotensi meningkat cukup signifikan. Ia menjelaskan bahwa tanpa adanya langkah penyesuaian, defisit fiskal bisa melebar hingga sekitar 3,6 hingga 3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Meski begitu, pemerintah masih memiliki beberapa alternatif kebijakan untuk menjaga agar defisit tetap berada di bawah batas 3 persen dari PDB, salah satunya melalui penyesuaian belanja negara. Namun apabila tekanan terhadap APBN semakin berat, pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk berbagi beban dengan masyarakat melalui penyesuaian harga BBM subsidi. Selain opsi tersebut, pemerintah juga menyiapkan langkah realokasi anggaran dengan menunda sejumlah program yang dianggap tidak terlalu mendesak. Purbaya menegaskan bahwa prioritas belanja negara tetap difokuskan pada program yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat, sementara pengeluaran lain seperti pengadaan barang atau proyek tertentu dapat ditunda hingga tahun berikutnya. Lonjakan harga minyak dunia sendiri dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Salah satu faktor yang memperparah kondisi tersebut adalah penghentian operasional kilang Saudi Aramco di Ras Tanura setelah adanya serangan drone di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Iran.