Pemerintah Indonesia memberlakukan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Untuk BBM jenis Pertalite, kuota harian untuk pengguna kendaraan pribadi adalah 50 liter per hari.Jatah 50 liter per hari itu jauh lebih banyak ketimbang pembatasan BBM subsidi di Malaysia. Di negeri jiran, bensin RON 95 subsidi yang dijual seharga 1,99 ringgit atau setara Rp 8.000-an per liter dibatasi. Setiap warga Malaysia yang berhak membeli bensin subsidi diberikan jatah sebanyak 200 liter per bulan.Jatah bensin subsidi sebanyak 200 liter sebulan itu sebenarnya telah dikurangi dari aturan sebelumnya. Sejak awal pemberlakuan BBM subsidi RON 95 di Malaysia, pembelian bensin subsidi itu dibatasi sebanyak 300 liter dalam sebulan. Akhirnya, Pemerintah Malaysia mengurangi kuota BBM subsidi di tengah lonjakan harga minyak imbas konflik di Timur Tengah. Direktur Strategi Investasi dan Ekonom Negara IPPFA Sdn Bhd, Mohd Sedek Jantan mengatakan penyesuaian kuota BBM subsidi merupakan langkah yang tepat meskipun bukan solusi paling efektif dalam jangka panjang. Tindakan itu dianggap penting karena kenaikan biaya subsidi yang berpotensi mencapai RM 24 miliar tahun ini merupakan risiko fiskal yang besar."Menunda tindakan (untuk memangkas subsidi) hanya akan meningkatkan biaya pada akhirnya. Bertindak lebih awal memungkinkan penyesuaian bertahap dan terkontrol, sementara penundaan meningkatkan kemungkinan tindakan yang lebih mendadak dan mengganggu di kemudian hari," ujar Sedek dikutip dari Bernama."Singkatnya, pemangkasan kuota mengelola penggunaan di tingkat marginal, tetapi penyesuaian harga mendorong perubahan perilaku nyata dan keberlanjutan fiskal," tuturnya.Kepala Ekonom CGS International Securities Malaysia, Nazmi Idrus juga mengatakan bahwa penyesuaian kuota BBM subsidi lebih baik ketimbang kenaikan harga RON 95 secara luas."Media melaporkan bahwa 90% konsumen menggunakan kurang dari 200 liter bahan bakar sehingga mayoritas masih terlindungi," tutur Nazmi.Jika dirata-rata, maka warga Malaysia per hari cuma dijatah 6,5 liter bensin subsidi. Atau 45,6 liter per minggu. Angka ini jauh lebih sedikit dibanding pembatasan Pertalite di Indonesia yang mencapai 50 liter per hari.Di Malaysia, jika warganya membeli bensin subsidi melebihi batas kuota, maka sisanya akan dikenakan harga bensin non-subsidi yang sesuai harga pasar. BBM jenis bensin RON 95 yang tidak disubsidi dikenakan harga sebesar 3,87 ringgit (Rp 16.267) per liter.Meski begitu, kendaraan yang digunakan untuk taksi online yang memenuhi syarat bisa dapat kuota bensin subsidi lebih banyak. Pengemudi e-hailing bisa dapat jatah 800 liter BBM per bulan. Itu pun jauh lebih sedikit dibanding jatah Pertalite di Indonesia yang kalau ditotal mencapai 1.500 liter per bulan.