Industri sepeda motor Indonesia mulai menyiapkan teknologi mesin yang dapat menggunakan bahan bakar dengan campuran etanol lebih tinggi. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) untuk meningkatkan efisiensi kendaraan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Salah satu teknologi yang tengah disiapkan adalah flexi engine. Teknologi ini memungkinkan mesin motor bensin beradaptasi dengan bahan bakar yang memiliki kadar etanol lebih tinggi. Pengendara motor antre mengisi BBM di salah satu SPBU kawasan Kuningan, Jakarta, Minggu (1/3/2026). PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi yang berlaku mulai 1 Maret 2026 yakni harga Pertamax (RON 92) dari Rp11.800 per liter menjadi Rp12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) dari Rp12.450 per liter menjadi Rp12.900 per liter, Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp12.700 menjadi Rp13.100 per liter, Dexlite dari Rp13.250 per liter menjadi Rp14.200 per liter, Pertamina Dex dari Rp13.500 per liter menjadi Rp14.500 per liter. Sekretaris Jenderal AISI Hari Budianto mengatakan, sepeda motor saat ini sudah dapat menggunakan bahan bakar dengan campuran etanol 10 persen atau E10 tanpa memerlukan modifikasi. Ke depan, industri menargetkan penggunaan E20 atau bahan bakar dengan kandungan etanol 20 persen pada 2030. Material Mesin Harus Disesuaikan Penggunaan etanol dalam konsentrasi lebih tinggi bukan sekadar mengganti jenis bahan bakar. Sejumlah komponen kendaraan yang bersentuhan langsung dengan bahan bakar juga perlu disesuaikan. Salah satunya adalah material berbahan plastik yang digunakan pada sistem bahan bakar. Material tersebut harus memiliki ketahanan terhadap karakteristik etanol agar tidak mudah mengalami perubahan atau kerusakan. Pertamax Green, bensin dengan campuran etanol 5 persen Menurut Hari, proses penyesuaian material kendaraan untuk menghadapi kadar etanol yang lebih tinggi membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Artinya, persiapan menuju penggunaan E20 perlu dilakukan sejak jauh hari, termasuk melalui pengembangan komponen dan pengujian kendaraan. Strategi tersebut menjadi penting karena penggunaan bahan bakar campuran etanol akan berjalan beriringan dengan pengembangan mesin yang semakin efisien. Honda CB300F Flex Fuel Flexi Engine Sudah Dipakai Honda Teknologi flexi engine pada dasarnya memberikan fleksibilitas kepada kendaraan untuk menggunakan bensin dengan kadar etanol berbeda. Semakin tinggi kandungan etanol, semakin besar pula kebutuhan penyesuaian pada sistem bahan bakar dan komponen kendaraan. Hari mengatakan, kombinasi pengembangan mesin yang lebih efisien dengan penggunaan bahan bakar berbasis etanol dapat memberikan penghematan yang lebih besar. Honda ADV 160 berteknologi Flex Engine yang meluncur di India. “Kalau (penghematan konsumsi BBM) 50 persen tadi ditambah dengan flexi engine, yang tadi E20 di 2030, kita sudah bisa menghemat 50 persen + 20 persen, 70 persen buat penghematan bahan bakar,” ujar Hari, dalam diskusi BIG Industrial Insight (20/8/2026). Teknologi flex fuel sebenarnya bukan hal baru di industri sepeda motor global. Honda, misalnya, telah mengembangkan kendaraan yang dapat menggunakan campuran etanol tinggi di sejumlah pasar. Honda memperkenalkan motor flex fuel pertama di dunia melalui Honda CG 150 Titan Mix di Brasil pada 2006. Teknologi serupa kemudian dikembangkan pada model seperti Honda CB300F Flex-Fuel dan Honda ADV160 Flex-Fuel di India yang dapat menggunakan campuran etanol hingga E85 atau 85 persen etanol. Namun, teknologi tersebut belum dipasarkan secara massal di Indonesia. Penerapannya masih bergantung pada kesiapan kebijakan energi, ketersediaan bahan bakar bioetanol, serta infrastruktur pendukung di Tanah Air.