Harga minyak dunia melambung tinggi karena konflik yang terjadi di Timur Tengah. Kendaraan dengan bahan bakar alternatif bisa menjadi salah satu solusinya.Indonesia sudah bisa memproduksi kendaraan dengan bahan bakar alternatif. Salah satunya adalah mobil dengan bahan bakar bioetanol.Menurut Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, Indonesia mulai masuk ke tahap baru dalam pengembangan energi berbasis biofuel, termasuk produksi mobil berbahan bakar etanol. Bahkan, pabrik otomotif Indonesia sudah bisa mengekspor mobil bioetanol ke luar negeri. "Dengan geopolitik memanas, Insya Allah kita akan percepat etanol 20% (E20)," kata Amran seperti dikutip CNBC Indonesia.Kata Amran, mobil berbahan bakar etanol telah diproduksi oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Mobil produksi PT TMMIN bisa meminum bensin dengan campuran etanol 20 persen (E20). Bahkan, mobil bioetanol Toyota sudah diekspor ke Brasil yang menerapkan standar lebih tinggi, E27."Sekarang mobilnya sudah ada di Indonesia. PT Toyota produksi mobil untuk etanol E20. Di ekspor ke Brasil, E27. Tinggal dipakai. Kita tinggal giling. Ini etanol kita, ubi kita, jagung kita, langsung masukkan," ujarnya.Saat ini di Indonesia sudah ada produk bahan bakar bioetanol, yaitu Pertamax Green. BBM tersebut dicampur etanol 5 persen.Pertamax Green 95 dengan kandungan 5 persen Bioetanol (E5) sudah 2 tahun dipasarkan oleh Pertamina Patra Niaga. Bahan bakar ini menggunakan bahan baku lokal sebagai prioritas utama dengan memanfaatkan tetes tebu (molase) yang dijadikan bioetanol fuel grade dari pemasok atau supplier lokal di Mojokerto, Jawa Timur. Pertamax Green 95 merupakan campuran dari bahan bakar fossil (Gasoline) dengan bahan bakar nabati (Etanol) yang berasal dari tanaman tebu dengan memprioritaskan bahan baku lokal.