Lonjakan harga minyak dunia mulai berdampak langsung ke industri otomotif global, khususnya pada peningkatan ekspor kendaraan listrik dan hybrid dari China. Mengutip Bloomberg, pada Maret 2026, pengiriman mobil elektrifikasi dari Negeri Tirai Bambu tercatat melonjak hingga lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu, tepatnya 140 persen. Data Asosiasi Mobil Penumpang China menunjukkan, ekspor pada Maret 2025 masih berada di kisaran 349.000 unit, sementara tahun ini sudah melampaui 700.000 unit. Ekspor mobil China dan Chery Kenaikan ini turut didorong oleh agresivitas produsen besar seperti BYD, yang menyumbang porsi terbesar ekspor, diikuti Geely dan Chery. Sentimen positif juga tercermin di pasar modal, di mana saham BYD di Hong Kong menguat sekitar 3,1 persen pada perdagangan Jumat (10/4/2026), dengan Geely dan Chery ikut bergerak naik. Sekretaris Jenderal PCA Cui Dongshu menjelaskan, lonjakan harga bahan bakar akibat konflik geopolitik membuat konsumen mulai mencari alternatif yang lebih hemat, termasuk mobil listrik dan hybrid. Menurut dia, fenomena ini bahkan terlihat dari meningkatnya aktivitas di showroom otomotif di berbagai negara Asia dalam beberapa waktu terakhir. “Produsen mobil Tiongkok dapat dengan cepat meningkatkan jangkauan global mereka selama krisis Selat Hormuz,” ujar Cui. Ia menilai, kondisi saat ini mengingatkan pada krisis minyak era 1970-an, ketika pasar mulai bergeser ke kendaraan yang lebih efisien energi. Mobil buatan China menunggu untuk di ekspor di pelabuihan Dalian, China Meski begitu, pertumbuhan pasar domestik China justru bergerak sebaliknya. Penjualan kendaraan listrik dan hybrid di dalam negeri pada Maret 2026 turun 14 persen menjadi sekitar 848.000 unit. Beberapa produsen bahkan mencatat koreksi cukup dalam, termasuk Tesla yang penjualannya di Shanghai turun 24 persen secara bulanan, serta BYD yang merosot lebih dari 40 persen di pasar domestik. Tekanan ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang mulai mengurangi dukungan, khususnya pada program subsidi tukar tambah kendaraan. Dampaknya terasa pada segmen mobil penumpang seperti sedan dan hatchback yang penjualannya menyusut hingga seperempat dibanding sebelumnya. “Permintaan telah terpengaruh oleh biaya yang lebih tinggi dan daya beli konsumen yang berkurang, yang menyebabkan penurunan secara keseluruhan,” kata Cui. Semarak mobil imitasi China. Meski begitu, ia menegaskan kendaraan energi baru masih lebih kompetitif dibanding mobil konvensional di pasar domestik. Sebagai catatan, harga minyak global melonjak setelah memanasnya konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran sejak akhir Februari 2026. Situasi sempat diperburuk dengan terganggunya distribusi melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pasokan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak mentah WTI sempat menembus 100 dollar AS per barel dan bahkan mencapai lebih dari 113 dollar AS per barel pada awal April 2026. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang