BBM menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kinerja mesin mobil. Setiap kendaraan memiliki kebutuhan nilai oktan yang berbeda sesuai dengan spesifikasi mesin. Penggunaan BBM dengan nilai oktan yang tidak sesuai tidak selalu langsung menimbulkan kerusakan. Namun, kondisi tersebut dapat memengaruhi proses pembakaran dan membuat performa mesin berubah. Aktivitas pengisian BBM di salah satu SPBU di Kabupaten Minahasa. Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memberikan sanksi kepada dua SPBU setelah hasil evaluasi menemukan pelanggaran dalam penyaluran BBM bersubsidi, Selasa (28/7/2026) Sejumlah gejala dapat dirasakan pengemudi ketika mesin menggunakan BBM yang tidak sesuai. Mulai dari tenaga berkurang, muncul bunyi ngelitik, hingga konsumsi bahan bakar yang menjadi lebih boros. Muchlis, pemilik bengkel spesialis Toyota Mitsubishi, Garasi Auto Service Sukoharjo, mengatakan salah satu tanda yang paling sering dirasakan ketika mesin menggunakan BBM yang tidak sesuai adalah tenaga mesin berkurang atau terasa ngempos saat akselerasi. “Waktu pengapian yang tidak tepat akan membuat performa mobil menurun, selain itu muncul bunyi ngelitik atau knocking saat mesin bekerja,” ucap Muchlis kepada Kompas.com, belum lama ini. Kondisi tersebut umumnya terjadi ketika mesin yang membutuhkan BBM dengan nilai oktan tinggi justru menggunakan bahan bakar beroktan lebih rendah. Akibatnya, proses pembakaran dapat berlangsung terlalu cepat dan memicu knocking. Pada awalnya, knocking mungkin tidak langsung menimbulkan kerusakan yang terasa. Namun, jika terjadi terus-menerus dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat mempercepat keausan komponen mesin, terutama piston. Getaran akibat knocking yang terjadi secara berulang juga dapat memberikan beban pada komponen mesin dan menyebabkan kerusakan secara perlahan. Selain performa menurun, penggunaan BBM dengan oktan yang tidak sesuai juga dapat membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros. Mesin harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan tenaga yang sama. “Tak terasa konsumsi BBM meningkat, hal ini bisa diperhatikan di layar informasi (MID) terkait rata-rata konsumsi BBM, hitungan berapa kilometer per liternya,” ucap Muchlis. Pengemudi juga dapat merasakan mesin bekerja lebih kasar dan bergetar dibandingkan kondisi normal. Gejala tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa proses pembakaran di dalam mesin tidak berlangsung secara optimal. Dari sisi emisi, penggunaan BBM yang tidak sesuai juga dapat membuat asap knalpot terlihat lebih pekat dan menimbulkan bau yang lebih menyengat. Kondisi ini dapat menjadi tanda terjadinya pembakaran yang tidak sempurna. “Kondisi ini juga bisa memicu lampu indikator check engine menyala karena sensor mendeteksi ketidaksesuaian sistem pembakaran,” ucap Muchlis. Selain itu, penggunaan BBM yang tidak sesuai dalam jangka panjang dapat meninggalkan residu di ruang bakar. Penumpukan residu tersebut membuat ruang bakar lebih cepat kotor dan berpotensi meningkatkan suhu kerja mesin.