Pasar kendaraan listrik global kini memasuki fase baru. Jika sebelumnya dipandang sebagai produk khusus atau segmen terbatas, kini mulai bertransformasi menjadi bagian arus utama industri otomotif dengan pertumbuhan yang semakin cepat. Deputi Bidang Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Rachmat Kaimuddin, menilai tren elektrifikasi kendaraan sudah tidak bisa dihindari. Berdasarkan kajian ilmiah dan perkembangan pasar global, kendaraan listrik justru menjadi solusi paling efektif untuk sektor transportasi. Mengacu pada laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Rachmat menjelaskan, elektrifikasi kendaraan penumpang merupakan upaya mitigasi paling signifikan dalam menekan emisi gas rumah kaca. Potensi dekarbonisasi dari sektor ini dinilai paling besar dibandingkan teknologi lain di transportasi darat. “Elektrifikasi kendaraan penumpang ringan merupakan upaya mitigasi paling efektif dengan potensi dekarbonisasi terbesar, berdasarkan kajian ilmiah,” ujar Rachmat dalam paparannya di Jakarta Selatan, Jumat (30/1/2026). Pasar kendaraan listrik kini tak lagi terbatas. Pertumbuhannya kian pesat secara global dan nasional, dengan pangsa pasar yang terus membesar. Dari sisi pasar, tren pertumbuhan kendaraan listrik juga semakin jelas. Secara global, pertumbuhan pasar mobil konvensional cenderung melambat, namun segmen kendaraan listrik justru menunjukkan peningkatan signifikan. Pada 2024, penjualan kendaraan listrik global mencapai sekitar 11 juta unit dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 50 persen. Selain itu, market share kendaraan listrik pun terus membesar. Pada 2024, pangsa pasar globalnya sudah menyentuh sekitar 15 persen dan menunjukkan pola pertumbuhan eksponensial. Artinya, kendaraan listrik tidak lagi sekadar produk alternatif, melainkan mulai menjadi bagian utama industri otomotif dunia. Ilustrasi Mobil Listrik. Insentif mobil listrik impor hanya berlaku hingga akhir 2025. Mulai 2026, produsen diwajibkan merakit kendaraan di dalam negeri sesuai aturan TKDN. Rachmat mencontohkan Tiongkok sebagai gambaran nyata perubahan tersebut. Negara yang menyumbang sekitar sepertiga pasar mobil dunia itu kini mencatat lebih dari setengah penjualan mobil barunya berasal dari kendaraan listrik murni dan plug-in hybrid. “Ini sudah bukan lagi sesuatu yang eksotik atau sekadar niche. Ini sudah masuk ke industri secara penuh, dan merupakan tren global yang harus kita terima dan antisipasi,” kata Rachmat. Di dalam negeri, arah perkembangan juga dinilai sejalan. Dengan dukungan kebijakan, insentif, serta penguatan ekosistem industri, pemerintah berharap pertumbuhan kendaraan listrik nasional bisa mengikuti laju global sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia di masa depan. Modifikasi mobil listrik Rp 100 jutaan Wuling Air ev dan Binguo EV Rachmat menegaskan, memahami percepatan pasar kendaraan listrik bukan hanya soal teknologi atau lingkungan, tetapi juga kesiapan industri nasional agar tidak tertinggal dalam perubahan besar yang sedang berlangsung di sektor otomotif dunia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang