Memasuki musim mudik Lebaran, sebagian pemilik mobil memanfaatkan roof box untuk menambah kapasitas barang bawaan. Aksesori yang dipasang di atap mobil ini dianggap praktis ketika bagasi belakang tidak lagi cukup menampung barang. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia Sony Susmana mengatakan, penggunaan roof box sering kali hanya mengikuti tren tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya. Padahal, pemasangannya harus disesuaikan dengan kondisi kendaraan dan barang yang dibawa. Ilustrasi Honda BR-V saat menggunakan roof box lansiran Thule Sony menjelaskan, perjalanan mudik identik dengan jarak jauh dan waktu tempuh panjang, bahkan sering melintasi beberapa provinsi. Dengan risiko perjalanan yang tinggi, barang bawaan harus diperhitungkan secara matang. “Untuk itu barang bawaan perlu diperhatikan jumlahnya, bobotnya, jenisnya, dan cara membawanya. Masalah muncul ketika barang yang dibawa berlebihan, melebihi kemampuan kendaraan,” ujar Sony. Sony menjelaskan, idealnya pabrikan sudah mendesain bagasi mobil sesuai dengan keperluan. Tapi yang keliru, orang menambah kapasitas bagasi dengan roof box tapi ditambah dengan bawaan yang berlebihan. Sony menambahkan, roof box sebenarnya boleh saja digunakan selama memperhatikan dimensi kendaraan serta tidak mengganggu keseimbangan mobil. Barang yang dimasukkan sebaiknya ringan agar tidak mengubah pusat gravitasi kendaraan. “Pastikan tidak mengubah center of gravity, artinya barang yang diisi sebaiknya yang ringan dan kecepatan kendaraan tidak lebih dari 80 kilometer per jam,” kata Sony. Selain itu, gaya berkendara juga harus lebih halus ketika mobil menggunakan roof box. Pengemudi disarankan menghindari manuver mendadak karena posisi beban berada di bagian atas kendaraan. “Sudah pasti harus halus, terutama saat stop and go. Kurangi koreksi setir berlebihan dan jangan sering berpindah lajur. Saat melewati gerbang tol atau area terbatas, pastikan juga ketinggiannya sesuai,” kata Sony. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang