Belakangan ini, berbagai insiden di jalan yang berujung kemarahan berlebihan, mulai dari adu mulut hingga tindakan yang mengarah ke anarkis, kerap menjadi perbincangan publik. Banyak yang mempertanyakan, mengapa orang-orang tampak semakin mudah tersulut emosi hanya karena persoalan yang sebenarnya sepele. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu mengatakan, pertanyaan semacam ini kerap muncul dan dibahas dalam sesi-sesi pelatihan defensive driving yang ia berikan. Foto: Keributan terjadi antara sesama wanita pengendara roda empat di Jalan Duri Utama Raya, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Minggu, (5/7/2026). Letupan Emosi, Bukan soal Pemicunya di Lapangan Menurut Jusri, hal yang perlu dicermati dari kejadian-kejadian semacam ini bukanlah pemicu di permukaan, melainkan letupan kemarahan yang muncul jauh melebihi porsi masalahnya. Ia menjelaskan, pemicu sesungguhnya dari letupan semacam itu sebenarnya sudah terbentuk jauh sebelum insiden itu terjadi. Banyak orang yang sudah membawa masalah berat dalam dirinya sebelum akhirnya tersulut oleh kejadian di jalan. Kecemasan yang Menumpuk Berujung Frustrasi Jusri menjelaskan, proses ini biasanya diawali oleh kecemasan yang terjadi berulang kali dan terus-menerus, sehingga lambat laun menjadi tekanan yang membuat seseorang frustrasi. "Ketika dia frustrasi, tiba-tiba ada gesekan lain, pemicu lain, seperti kasus kemarin, di mana istrinya dimarahin. Sehingga dia masuk ke dalam, dia emosi," kata Jusri kepada Kompas.com, Selasa (18/8/2026). Emosi sesaat itulah yang kemudian bisa memicu seseorang melakukan tindakan di luar nalar, bahkan sampai ke tindakan anarkis, bukan sekadar luapan lewat ucapan. Ada "Bahaya Tersembunyi" di Balik Kemarahan Jusri menyebut kondisi ini sebagai bagian dari apa yang dalam istilah keselamatan berkendara disebut hidden hazard atau bahaya tersembunyi, yang berbeda dengan bahaya eksternal yang kasatmata seperti lubang jalan, asap, atau kabut. "Bahaya yang tidak dipahami, tidak disadari adalah bahaya-bahaya internal. Yang mengetahui bahaya internal ini adalah mereka sendiri," ujarnya. Ia mencontohkan beberapa bentuk masalah yang bisa menjadi hidden hazard tersebut, mulai dari tekanan pekerjaan yang bertubi-tubi, masalah finansial yang berat dan terus-menerus, persoalan hubungan dengan pasangan, keluarga, atasan, hingga masalah kesehatan yang serius. "Kalau tidak ditangani, dipahami betul-betul oleh yang bersangkutan, ini bisa memicu tindakan-tindakan impulsif," katanya. Rasa Malu yang Berubah Jadi Semakin Menjadi Menyinggung kasus yang viral seperti rebutan parkir, Jusri menduga pelaku sebenarnya menyadari kekeliruannya sendiri, namun rasa malu justru membuat responsnya semakin tidak terkendali. "Dia tahu permasalahan istri dan tagging (parkir), malu, karena dia udah sadar. Tapi pada saat itu, semakin menjadi-jadi," ujarnya. Kaca mobil pribadi dipevah oleh sopir angkot usai cekcok ditegur lawan arus, Rabu (22/4/2026). Dua Kelompok Pemicu: Mental Problem dan Eksistensi Jusri membagi pemicu perilaku road rage semacam ini ke dalam dua kelompok besar, yakni mental problem dan kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri. Kelompok pertama, kata dia, adalah mereka yang sedang menghadapi tekanan hidup berat, baik dari sisi pekerjaan, keuangan, hubungan interpersonal, maupun kesehatan. Kelompok kedua adalah mereka yang terdorong oleh ego atau kebutuhan pengakuan atas status sosialnya. Menurutnya, ketidaksadaran akan pentingnya empati di jalan menjadi benang merah dari kedua kelompok tersebut. "Di jalan itu selain terampil, tertib, juga perlu empati kalau tidak mau gesekan," ujar Jusri.