Kemacetan di jalan tol masih menjadi persoalan yang kerap dikeluhkan pengguna jalan. Padahal, jalan tol dibangun sebagai jalan bebas hambatan agar arus lalu lintas dapat mengalir lebih lancar. Tidak hanya di kawasan perkotaan, kemacetan di ruas tol antarkota juga kerap terjadi, bahkan dapat berlangsung hingga berjam-jam. Selama ini tingginya volume kendaraan sering dianggap sebagai penyebab utama kondisi tersebut. Namun Rio Octaviano dari Road Safety Association (RSA) Indonesia menilai kemacetan di jalan tol tidak selalu dipicu oleh banyaknya jumlah kendaraan. Kendaraan pemudik terjebak macet di Tol Cikampek, Jawa Barat, Jumat (7/6/2019). Pada H+2 lebaran, Tol Cikampek mulai dipadati kendaraan pemudik yang akan kembali ke Jakarta. "Jangan selalu menyalahkan jumlah kendaraan setiap kali terjadi kemacetan," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (3/7/2026). Menurut Rio, berbagai penelitian mengenai phantom traffic jam atau traffic wave menunjukkan bahwa gangguan kecil di lalu lintas dapat berkembang menjadi gelombang kemacetan yang berdampak pada ribuan kendaraan. Ia menjelaskan, kondisi tersebut bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti perbedaan kecepatan antar kendaraan (speed gap), kendaraan yang melaju di bawah batas kecepatan minimum (under speed), hingga pengemudi yang menggunakan lajur kanan secara tidak semestinya (lane hogger). "Sudah saatnya manajemen lalu lintas menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton yang menyaksikan kemacetan terjadi," kata Rio. Macet di ruas Tol Kebon Jeruk "Ketika truk atau bus berada di lajur paling kanan dan menutupi pandangan pengemudi di belakangnya, maka yang hilang bukan hanya kecepatan, tetapi juga kemampuan untuk mengantisipasi bahaya," ujarnya. Manajemen Lalu Lintas Rio mengatakan, RSA mengapresiasi langkah operator jalan tol yang mulai memanfaatkan teknologi untuk mendeteksi kendaraan yang melaju melebihi batas kecepatan (over speed). Namun, menurutnya, pengelolaan lalu lintas tidak seharusnya hanya berfokus pada pelanggaran kecepatan maksimum. Jika teknologi mampu mendeteksi kendaraan yang melaju terlalu cepat, maka sistem yang sama juga seharusnya dapat digunakan untuk mengidentifikasi kendaraan yang melaju di bawah batas kecepatan minimum. Truk ODOL Hal yang sama juga berlaku untuk kendaraan yang terlalu lama berada di lajur mendahului, maupun kondisi speed gap yang berpotensi memicu kemacetan dan membahayakan keselamatan. "Kendaraan yang terlalu lama menggunakan lajur mendahului, serta kondisi speed gap yang berpotensi menimbulkan risiko keselamatan dan kemacetan," tulisnya. Penanganan ODOL Rio mengatakan RSA memahami pemerintah masih menghadapi tantangan dalam menangani kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL), yang menjadi salah satu faktor penyebab terganggunya kelancaran arus lalu lintas di jalan tol. Meski demikian, menurut dia, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan upaya perbaikan manajemen lalu lintas. Lane hogger sedang diberi pembelajaran oleh pengguna jalan lain. Rio menilai, selama penanganan ODOL belum sepenuhnya optimal, operator jalan tol justru perlu lebih aktif menerapkan manajemen kecepatan dan pengaturan lalu lintas melalui pemanfaatan teknologi serta pengawasan di lapangan. Optimalkan CCTV dan Patroli Sebagai solusi, Rio mengusulkan optimalisasi penggunaan CCTV, sistem pemantauan lalu lintas, serta peningkatan peran petugas patroli jalan, baik dari operator jalan tol maupun Patroli Jalan Raya (PJR). Menurutnya, pengawasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan deteksi dini, memberikan peringatan kepada pengguna jalan. Tarmasuk juga intervensi cepat terhadap kendaraan yang melaju terlalu lambat (under speed) dan pengguna lajur kanan yang tidak segera berpindah (lane hogger).