JAKARTA, KOMPAS.com – Saat melintas di jalan tol, pengemudi kerap menemui kemacetan yang terasa janggal. tiba melambat tanpa penyebab jelas seperti kecelakaan atau kendaraan mogok. Fenomena ini dikenal sebagai phantom traffic atau kemacetan semu. Arus balik mudik Lebaran di ruas tol Purbaleunyi KM 125, Kota Cimahi, Jawa Barat pada Senin (23/3/2026) sore. Kondisi tersebut umumnya terjadi akibat perilaku berkendara yang tidak konsisten. Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa phantom traffic justru bertentangan dengan tujuan jalan tol yang dirancang untuk menjaga kelancaran arus kendaraan. “Phantom traffic adalah perilaku berlalu lintas yang justru menghambat tujuan keberadaan jalan tol itu sendiri. Kemacetan semacam ini bisa terjadi meskipun kondisi jalan terlihat lancar, tanpa ada hambatan fisik di depan," kata Jusri yang dihubungi Kompas.com, belum lama ini. "Padahal, jika dilihat dari atas menggunakan drone, tidak ada hambatan apa pun yang terlihat di depan," ujarnya. Kendaraan terjebak macet menuju puncak Bogor saat mudik Lebaran 2026 Lebih lanjut, Jusri menjelaskan bahwa kemacetan ini biasanya berawal dari hal kecil yang kemudian menimbulkan efek berantai ke kendaraan di belakangnya. "Inilah yang disebut sebagai phantom traffic, kemacetan semu yang muncul akibat perilaku berkendara yang tidak konsisten, seperti sering mengerem mendadak atau tidak menjaga jarak aman," katanya. "Karena itu, menjaga kecepatan tetap stabil, menghindari pengereman yang tidak perlu, serta memberi jarak aman dengan kendaraan di depan menjadi kunci untuk mencegah terjadinya fenomena ini,” ujar Jusri. Penjelasannya, ungkap Jusri, jika satu mobil melaju sekitar 80 km/jam, maka kendaraan di belakangnya mungkin hanya mampu melaju 70 Km/jam. Selanjutnya, kendaraan di belakangnya akan melaju lebih lambat lagi, dan kondisi ini terus berlanjut ke kendaraan berikutnya. Akibatnya, jika kendaraan di depan sering mengerem mendadak dan pengemudi di belakang tidak menjaga jarak aman, maka kendaraan paling belakang bisa melambat drastis bahkan berhenti. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang