MUSI RAWAS UTARA, KOMPAS.com - Kecelakaan maut yang melibatkan bus PO Antar Lintas Sumatera (ALS) dengan sebuah truk tangki terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026). Insiden "adu kambing" tersebut dilaporkan merenggut nyawa 16 orang. Kanit Gakkum Satlantas Polres Muratara, Aiptu Iin Shodikin menjelaskan, peristiwa tragis ini berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB. Kejadian bermula saat bus ALS yang membawa belasan penumpang melaju dari arah Kota Lubuklinggau menuju Jambi. Bus PO ALS Pada saat yang bersamaan, dari arah berlawanan datang sebuah mobil tangki BBM yang dikemudikan oleh Yanto bersama seorang penumpang wanita bernama Martini. “Sesampainya di TKP, diduga bus ALS masuk ke jalur berlawanan sehingga menabrak mobil tangki BBM tersebut,” ujar Iin, Rabu (6/5/2026). Berdasarkan informasi yang dihimpun, bus ALS tersebut diduga mencoba menghindari lubang di jalan. Namun, manuver tersebut justru membuat bus masuk ke jalur lawan dan menghantam truk tangki secara frontal. Menanggapi hal ini, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menjelaskan, manuver menghindar yang berujung fatal tersebut biasanya merupakan gerakan spontanitas yang tidak terencana, dan sangat berbahaya bila terjadi di jalur dua arah seperti di Lintas Sumatera. "Jika dugaan itu benar, ini adalah gerakan spontanitas di luar kemampuan kognitifnya. Pengemudi melihat ancaman lubang, tapi dia lupa ada ancaman yang lebih besar di depan sehingga refleksnya ke kanan," ujar Jusri saat dihubungi Kompas.com, Rabu (6/5/2026). Jusri menambahkan, perilaku ini menunjukkan pengemudi tidak terbiasa mengantisipasi potensi bahaya sejak dini. Dalam dunia defensive driving, dikenal metode Safe Vision atau pandangan aman untuk mengidentifikasi ancaman dari jauh. "Orang yang memelihara Safe Vision akan mengidentifikasi bahaya dari jauh, sehingga tidak akan melakukan manuver yang tiba-tiba. Kalau dia sudah lihat ada lubang dan ada truk dari lawan arah, pilihannya adalah melakukan perlambatan halus, bukan banting setir mendadak," kata Jusri. Menurutnya, gerakan spontan memang menunjukkan keterampilan, namun di jalan raya, keterampilan saja tidak cukup tanpa perencanaan yang matang. "Sangat logis secara ilmiah, jika kita antisipasi dari awal, maka tidak akan terjadi manuver tanpa analisa. Semuanya harus terencana karena kita berbagi jalan dengan pengguna lain," tuturnya. Kondisi jalan di Lintas Sumatera memang rawan kecelakaan, karena jalan relatif sempit dengan bahu jalan yang sering kali tidak ideal memang menuntut konsentrasi tinggi bagi pengemudi angkutan besar. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang