Fitur self charging pada mobil hybrid terkesan seperti sangat menguntungkan karena bisa mengisi daya listrik pada baterai secara mandiri, tanpa harus membeli daya. Bayangkan saja sehemat apa biaya operasionalnya bila daya baterai yang sudah terpakai mobil hybrid bisa terisi kembali, tanpa mengkonsumsi daya dari eksternal atau colokan listrik. Namun faktanya, anggapan tersebut kurang tepat lantaran mobil hybrid masih membutuhkan energi lain untuk mengecas baterai, yakni dengan mesin bakar atau tepatnya butuh bahan bakar minyak (BBM). Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan selaras dengan hukum kekekalan energi, tak ada energi yang hilang terpakai tapi hanya berubah bentuk. “Pada mobil hybrid juga menganut paham tersebut, yakni baterai menjadi penampung daya listrik, selanjutnya dialirkan ke motor untuk menggerakkan roda, perlahan daya akan habis berubah menjadi energi kinetik,” ucap Jayan kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Proses self charging sebaliknya, dari energi kinetik akan dimanfaatkan oleh generator agar sebagian energi berubah menjadi energi listrik untuk disimpan kembali di dalam baterai. Tampilan layar display (MID) New Veloz Hybrid “Hanya saja self charging dari rem regeneratif ini sangat kecil, hanya 10 persen dari total energi kinetik yang berubah menjadi energi listrik, sisanya menjadi energi panas saat pengereman,” ucap Jayan. Maka dari itu, mobil hybrid masih membutuhkan mesin bakar (ICE) sebagai generator sekaligus sebagai tenaga tambahan ketika mobil berakselerasi. “Ketika kapasitas baterai menipis, mobil melaju konstan, maka mesin juga akan berperan sebagai generator untuk mengisi daya listrik, artinya energi listrik ini tak terserap dari alam begitu saja, tapi ada energi BBM yang dibakar,” ucap Jayan. Sehingga, tak heran bila konsumsi rata-rata BBM pada mobil hybrid tidak lepas dari cara berkendara, kondisi lalu lintas dan beban muatannya. Bila memang self charging bisa menciptakan energi secara mandiri, seharusnya konsumsi BBM bisa menjadi sangat irit. Faktanya, fitur ini sebatas mempermudah konsumen agar tidak ketergantungan dengan stasiun pengisian listrik (SPKLU). “Terlepas dari keterbatasan self charging, fitur ini bisa memberikan rasa aman kepada konsumen ketika perjalanan di daerah yang minim fasilitas SPKLU, karena masih bisa mengisi bensin di pom,” ucap Jayan. Nah, dengan memahami seperti apa fitur self charging pada mobil hybrid, konsumen bisa terhindar dari salah paham memaknai fungsinya secara umum. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang