Lampu kuning di persimpangan kerap menimbulkan dilema bagi pengendara motor. Sebagian memilih menambah kecepatan agar lolos sebelum lampu berubah merah, sementara lainnya justru mengerem mendadak. Kesalahan memahami lampu kuning tentu bisa memicu kecelakaan, terutama di titik persimpangan dengan arus kendaraan yang padat dan melibatkan banyak sepeda motor. Menurut Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, lampu kuning merupakan fase transisi yang menuntut kesiapan dan kedisiplinan pengendara. "Lampu kuning itu bukan tanda untuk tancap gas, melainkan peringatan bahwa fase lampu akan segera berubah. Pengendara harus melihat jarak, kecepatan, dan kondisi di sekitarnya sebelum mengambil keputusan," kata Agus kepada Kompas.com, Senin (2/3/2026). Ia menjelaskan, etika berkendara saat lampu kuning sangat bergantung pada konteks perubahannya. Pengendara menerobos lampu merah di persimpangan Jalan R. S. Soekanto, Jakarta Timur, Selasa (11/2/2025) pagi. Jika lampu kuning menyala setelah lampu merah, artinya pengendara di baris terdepan harus bersiap untuk berjalan. "Ketika kuning setelah merah, itu tanda bersiap. Tetapi tetap lihat kanan-kiri, pastikan arus lain sudah benar-benar berhenti. Jangan langsung tarik gas karena bisa saja masih ada kendaraan yang nekat menerobos," ujar Agus. Sebaliknya, jika lampu kuning muncul setelah lampu hijau dan akan berganti merah, pengendara sebaiknya segera mengurangi kecepatan secara bertahap. "Kalau jaraknya masih cukup untuk berhenti dengan aman, sebaiknya kurangi gas dan lakukan pengereman secara halus. Jangan mendadak, karena motor bisa kehilangan keseimbangan atau ditabrak dari belakang," kata Agus. Mengingat durasi lampu kuning umumnya hanya sekian detik, keputusan paling aman adalah berhenti jika masih memungkinkan dan tidak membahayakan kendaraan di belakang. Agus menambahkan, kebiasaan mempercepat laju kendaraan demi “mencuri waktu” justru meningkatkan risiko tabrakan dari arah samping. Di sisi lain, pengereman mendadak tanpa memperhatikan spion dan jarak aman juga bisa memicu kecelakaan beruntun. Secara etika, disiplin saat menghadapi lampu kuning mencerminkan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas sekaligus kepedulian terhadap pengguna jalan lain. Pengendara perlu memahami bahwa keselamatan di persimpangan bukan soal lolos dari lampu merah, melainkan bagaimana menjaga arus lalu lintas tetap tertib dan aman. Karena itu, membiasakan diri mengontrol kecepatan sejak lampu masih hijau menjadi kunci. Dengan menjaga jarak aman dan membaca situasi lebih awal, pengendara tidak akan berada dalam posisi serba salah saat lampu berubah menjadi kuning. Di jalan raya, keputusan dalam hitungan detik bisa menentukan keselamatan banyak orang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang