Bagi sebagian orang, modifikasi identik dengan ubahan tampilan atau peningkatan performa. Namun, berbeda dengan yang dilakukan Toto, pemilik Honda Jazz GE8. Ia justru memilih jalur yang tidak biasa dengan mengonversi hatchback kesayangannya menjadi mobil hybrid. Lebih tepatnnya, varian hybrid yang tidak dijual di Indonesia, tapi hadir di pasar domestiik Jepang. Menariknya, proyek tersebut bukan sekadar untuk tampil beda. Toto mengaku seluruh ubahan yang dilakukan berangkat dari kebutuhan penggunaan harian sekaligus rasa penasaran terhadap teknologi hybrid Honda yang sejak lama ia incar. Awal mula ketertarikannya terhadap Honda Jazz bermula dari fitur cruise control yang saat itu jarang ditemui pada mobil sekelasnya. "Pertama kali beli mobil ini karena mau aktifkan cruise control. Karena di tahun 2010 atau 2011, saya lupa, itu di Civic FD1 saya berhasil mengaktifkan cruise control di zaman itu. Dan setelah saya tahu ternyata Jazz GE8 juga bisa cruise control, akhirnya saya coba beli buat untuk oprek," ujar Toto kepada Kompas.com, di BSD, Jumat (11/6/2026). Honda Jazz bermesin hybrid Keinginannya memiliki mobil hybrid sebenarnya sudah muncul sejak lebih dari satu dekade lalu. Saat melihat Honda CR-Z, Toto langsung tertarik dengan teknologi tersebut. Namun harga yang masih tinggi membuat impiannya harus ditunda. "Di 2014 atau 2015 saya sempat melihat Honda CR-Z. Waktu itu saya pikir keren nih hybrid. Tapi harganya mahal banget dan enggak mampu. Akhirnya ya sudah dilupakan," katanya. Kesempatan baru datang pada 2023 saat dirinya bertemu seseorang yang memiliki satu set mesin hybrid Honda Jazz 1.5 dengan kode yang sama seperti mesin CR-Z. "Singkat cerita di tahun 2023 ketemu seseorang di Jakarta yang ternyata dia punya mesin hybrid. Akhirnya saya rayu-rayu boleh enggak satu buat saya, pengen coba bangun. Dan akhirnya dia merelakan satu mesinnya dan saya punya kesempatan untuk membangun mobil ini," ucap Toto. Sebelum menggunakan sistem hybrid, Honda Jazz miliknya sebenarnya masih tergolong sederhana. Modifikasi hanya sebatas pelek, grille Modulo, dan perangkat pengereman. Honda Jazz bermesin hybrid "Kalau sebelum masuk hybrid konsepnya standar. Karena harian saja, paling BBK Spoon, pelek sama grille Modulo. Setelah masuk 2023 baru mulai pasang panoramic, mesin hybrid dan lain-lain," katanya. Menurut Toto, konsep modifikasi yang diusung lebih menitikberatkan pada fungsi dibanding sekadar estetika. "Yang saya modif sebenarnya lebih ke fungsi. Estetika ada, tapi saya lebih ke fungsi karena mobil ini benar-benar dipakai harian," ujarnya. Mengingat mobil ini sudah dibekali mesin hybrid, soal konsumsi bahan bakar, Toto mengaku perbedaannya paling terasa saat digunakan untuk perjalanan luar kota. "Kalau di dalam kota menurut saya enggak terlalu signifikan. Tapi kalau buat jalan jauh luar kota sangat signifikan. Driving style juga berubah. Kalau sebelumnya bisa gas-rem seenaknya, sekarang lebih santai dan menikmati perjalanan," kata dia. Salah satu alasan gaya berkendaranya berubah juga berkaitan dengan karakter transmisi CVT pada Jazz Hybrid. "Setelah tanya-tanya teman, ternyata CVT belt Honda Jazz Hybrid ini terkenal kuat dibanding beberapa model Honda lain. Jadi saya lebih santai pakainya," ujar Toto. Honda Jazz bermesin hybrid Fitur JDM Karena menggunakan paket mesin dan kelengkapan bawaan Honda Fit Hybrid Jepang, mobil ini turut membawa sejumlah fitur yang tidak tersedia pada Honda Jazz versi Indonesia. Mulai dari sistem keyless entry, start-stop engine otomatis, hingga mode berkendara Eco dan Sport. "Kalau berhenti mesin mati sendiri, terus pas lepas rem langsung hidup lagi. Itu uniknya hybrid," katanya. Pada mode Sport, tampilan panel instrumen juga berubah warna menjadi merah untuk memberikan nuansa lebih agresif saat berkendara. Honda Jazz bermesin hybrid Selain itu, fitur cruise control yang menjadi alasan awal membeli mobil ini juga ikut aktif setelah proses konversi selesai. "Kalau di Jepangnya memang sudah ada. Jadi waktu dibangun otomatis ikut aktif," ujar Toto. Tidak hanya itu, sistem pendingin udara juga dilengkapi teknologi Plasma Cluster yang berfungsi membantu menyaring udara di dalam kabin. Honda Jazz bermesin hybrid Panoramic Sunroof dan Pendingin Baterai Ubahan lain yang cukup mencolok adalah pemasangan panoramic sunroof bawaan Honda Fit Hybrid Jepang. Menurut Toto, fitur tersebut bukan hanya menambah kesan mewah, tetapi juga mampu meredam panas dengan baik saat penutupnya digunakan. "Yang saya salut waktu ditutup itu panasnya benar-benar hilang dan enggak tembus ke dalam," katanya. Honda Jazz bermesin hybrid Menariknya lagi, area belakang kabin juga memiliki sistem ventilasi khusus untuk menjaga suhu baterai hybrid tetap stabil. "Awalnya saya pikir cuma hiasan. Ternyata ini ventilasi buat sedot udara dingin masuk ke dalam sebagai pendingin baterai. Jadi cooling system-nya memang sudah lengkap dari bawaan," ujar Toto. Seluruh proses modifikasi dan konversi Honda Jazz hybrid ini disebut menghabiskan dana sekitar Rp 190 juta. Meski nilainya tidak sedikit, Toto mengaku puas karena berhasil mewujudkan mobil impiannya yang memadukan efisiensi, kenyamanan, dan teknologi khas mobil Jepang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang