Pertumbuhan pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berharga terjangkau di Indonesia mulai memberikan efek domino terhadap dinamika pasar mobil bekas. Segmen mobil bekas konvensional, khususnya di rentang harga Rp 200 juta hingga Rp 300 jutaan, menjadi sektor yang paling merasakan dampaknya. Kini dengan anggaran Rp 200 jutaan sampai Rp 300 jutaan, konsumen dihadapkan pada banyaknya pilihan mobil listrik baru, terutama dari pabrikan asal China yang menawarkan fitur melimpah. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Kondisi ini membuat calon pembeli mobil bekas di rentang harga tersebut mulai mengalihkan pandangannya. Kekhawatiran Pebisnis Mobil Bekas Reynando, pemilik Auto Cars di Pasar Mobil Kemayoran, mengungkapkan bahwa pihaknya masih enggan menyetok mobil listrik bekas karena pergerakan harga unit barunya yang tergolong cepat turun. "EV tuh kadang kita masih khawatir, kita dihantam sama harga barunya. Apalagi mobil-mobil China, itu gila-gilaan. Keluar baru malah lebih murah terus," kata Reynando kepada Kompas.com, Jumat (25/9/2026). Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Reynando mencontohkan fluktuasi harga pada unit Hyundai Ioniq 5. Penurunan harga atau pemberian diskon besar pada unit baru secara otomatis mengoreksi nilai jual unit bekas di pasaran. "Contoh Ioniq 5, misalnya beli baru di Rp 500 jutaan. Terus beli bekas, patokan harga kita beli di Rp 380 juta-Rp 390 juta, supaya bisa jual di Rp 400 jutaan. Tiba-tiba yang baru didiskon, khawatir di situnya," kata Reynando. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Menurutnya, fenomena ini tidak pernah terjadi saat pasar masih didominasi oleh merek-merek asal Jepang atau Eropa. "Saat dikuasai mobil-mobil Jepang, Eropa, enggak ada kejadian mobil lebih baru tetapi lebih murah. Tetapi giliran sekarang mobil China masuk, dia keluarkan yang baru, teknologi lebih maju, harga lebih murah," kata Reynando. Keunggulan EV Tekan Peminat Mobil Bekas Toni, pemilik diler Gabe Mobilindo, menyebutkan bahwa maraknya mobil listrik murah berdampak langsung pada perputaran stok mobil bekas. Saat ini, unit yang paling cepat terserap pasar justru berada di kategori harga terjangkau. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran "Yang cepat laku itu yang di bawah Rp 100 juta sampai Rp 100 juta kecil. Karena mobil listrik sekarang murah-murah. Pengaruh, mau yang baru, yang bekas," kata Toni. Menurut Toni, dengan merogoh kocek Rp 200 jutaan untuk mobil listrik baru, konsumen sudah mendapatkan berbagai kemudahan operasional, terutama untuk penggunaan di perkotaan. "Ya sangat terasa, untuk mobil Rp 200 juta, sudah dapat listrik, bebas ganjil-genap, pajaknya murah. Mobil konvensional ya terkena dampak, orang lebih mending beli yang listrik saja," ucapnya. Mobil Mewah dan Mesin Diesel Ikut Terdampak Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Tidak hanya menyasar segmen menengah, dampak kehadiran EV murah dan premium berbasis listrik juga merembet ke segmen mobil konvensional berukuran besar serta bermesin diesel. Hendrik, pemilik Auto 95, menjelaskan bahwa MPV mewah seperti Toyota Alphard hingga jajaran SUV diesel turut merasakan tekanan dari hadirnya EV bongsor seperti Denza D9 hingga XPeng. "Sama seperti Alphard juga, kepukul sama mobil listrik, XPeng, Denza. Mobil listrik kan bebas ganjil-genap, pajak murah, enak banget dipakai di Jakarta," kata Hendrik. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Di sisi lain, tren kenaikan harga bahan bakar diesel nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex turut mendorong konsumen berpikir ulang sebelum memboyong mobil bermesin besar. "Paling murah kan Wuling tuh Rp 155 (juta). Pengaruh juga. Mobil besar yang terkena, Alphard, Voxy, Fortuner, Pajero, Palisade, Santa Fe yang masih pakai solar," ujar Hendrik. Gempuran mobil listrik murah yang didukung berbagai regulasi menguntungkan pada akhirnya mengubah peta persaingan industri otomotif nasional. Kesiapan para pedagang mobil bekas kini diuji untuk lebih cermat dalam memilah stok agar dapat bertahan di tengah pergeseran preferensi konsumen yang kian rasional.