Kondisi perekonomian yang sedang tidak menentu memberikan dampak langsung pada industri otomotif bekas di Tanah Air. Sejumlah pedagang di pusat penjualan mobil bekas meresahkan tren penurunan jumlah pengunjung yang berdampak signifikan pada angka penjualan. Fenomena sepinya pusat mobil bekas ini salah satunya dirasakan di Pasar Mobil Kemayoran (PMK), Jakarta Pusat. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Aktivitas transaksi di kawasan tersebut tergolong melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penurunan Kunjungan Toni, pemilik diler Gabe Mobilindo di Pasar Mobil Kemayoran, mengungkapkan bahwa tren penurunan pembeli sejatinya telah berlangsung lama, tetapi kondisi tahun ini terasa jauh lebih berat. "Sama saja, sudah lama menurun. Sudah tahunan, tapi sekarang lebih parah lagi. Indikasinya, lihat banyak diler yang tutup," ujar Toni kepada Kompas.com, Jumat (25/9/2026). Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Kendati demikian, Toni menceritakan adanya perbedaan dinamika dengan sentra mobil bekas di area penyangga seperti kawasan Serpong, Tangerang Selatan. Menurutnya, pengunjung di Serpong masih tergolong aktif. "Pasar di Serpong, di sana orang jalan-jalan bisa jadi (beli) masih banyak. Banyak hari biasa, orang kantoran, makan siang, mampir, lihat-lihat, jadi (beli)," kata Toni. Ia menambahkan, pedagang di pusat kota seperti PMK kini harus bekerja lebih ekstra melalui iklan digital untuk menjaring pembeli langsung. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran "Kalau di tengah kota susah. Sebenarnya mereka (di Serpong) sudah ada niat, jalan tanpa lihat iklan. Kalau kita kan harus pakai iklan, apalagi cari end user," tuturnya. Dampak Konflik Global Selain dinamika ekonomi makro, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi akibat gejolak geopolitik global turut memperpanjang lesunya pasar mobil bekas. Hendrik, pemilik diler Auto 95, menjelaskan bahwa penurunan minat beli konsumen mulai sangat terasa sejak awal terjadinya konflik global yang memicu lonjakan harga BBM jenis diesel nonsubsidi maupun Pertamax Turbo. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran "Habis perang kali ya, awal-awal solar pada naik, Pertamax Turbo. Kayaknya belum ada kenaikan (pengunjung). Yang sempat Rp 28.000-Rp 29.000 (per liter)," ucap Hendrik. Menurut Hendrik, kenaikan biaya operasional kendaraan akibat harga BBM yang meroket makin menahan niat masyarakat untuk memboyong mobil bekas. "Sebenarnya sudah sepi, tapi dari situ makin sepi lagi. Gara-gara solar naik, Pertamax Turbo naik," kata Hendrik. Segmen Mobil Eropa Rebound Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Di tengah kelesuan pasar secara umum, tren berbeda justru dirasakan oleh pedagang yang bermain di ceruk pasar spesifik, seperti mobil bekas asal pabrikan Eropa. Reynando, pemilik Auto Cars yang mengkhususkan diri pada mobil bekas Eropa, menyebutkan adanya geliat pemulihan (rebound) penjualan pada kuartal ketiga tahun ini. Agustus sudah mulai ramai sampai September. Juni lebih parah. Bisa juga (karena) baru pada masuk, alokasinya ke sekolah anak," kata Reynando. Deretan mobil bekas di Pasar Mobil Kemayoran Reynando menilai tren penjualan sepanjang tahun 2026 terbilang fluktuatif. Setelah sempat stabil di awal tahun, pasar sempat merosot tajam pada pertengahan tahun sebelum akhirnya perlahan bangkit kembali. Ia menambahkan, unit yang paling cepat terserap pasar saat ini didominasi oleh kendaraan Eropa di rentang harga Rp 300 juta hingga Rp 400 jutaan. "Mobil Eropa bujet Rp 300 juta sampai Rp 400 jutaan ya, fast moving-nya di situ. Tahun-tahun 2018-2019," kata Reynando. Dinamika yang dialami para pelaku bisnis mobil bekas saat ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi serta penyesuaian daya beli masyarakat. Di satu sisi, segmen kendaraan konvensional kelas menengah harus berjuang ekstra menghadapi tekanan ekonomi dan beban operasional. Namun di sisi lain, ceruk pasar mobil premium bekas tetap memiliki basis konsumen yang relatif bertahan.