Kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri ban. Kondisi tersebut semakin kompleks karena perusahaan harus menjaga harga produk tetap kompetitif di tengah tekanan ekonomi. Bridgestone Indonesia menghadapi situasi tersebut sebagai bagian dari jaringan bisnis global. Produk dari Indonesia tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke berbagai negara. "Memang suka enggak suka, harus kita katakan, untuk Bridgestone karena kan kita Bridgestone Indonesia. Contohnya, kita ekspor ke 70 negara, bahkan ke Jepang sendiri juga," ujar Mukiat Sutikno, Presiden Direktur Bridgestone Indonesia, kepada Kompas.com, saat ditemui di Jakarta, belum lama ini. Bridgestone Terapkan Standar Global Sebagai bagian dari jaringan global, Bridgestone juga menerapkan standar produk yang sama. Perbedaan produk lebih berkaitan dengan kebutuhan kondisi tertentu di masing-masing negara. proses produksi ban Bridgestone di Thailand "Jadi, kita enggak bisa kalau orang bilang untuk Indonesia kita kurangin apanya, itu enggak bisa, karena memang dari Bridgestone hanya satu standar," kata Mukiat. Salah satu contoh perbedaan kebutuhan adalah ban musim dingin yang digunakan di negara dengan kondisi bersalju. "Cuma mungkin perbedaannya kalau negara kayak Jepang, Eropa, Amerika, yang ada snow. Nah, itu ada winter tire-nya, memang itu ada perbedaan karakter lah ya," ujar Mukiat. Harga Ban Tak Bisa Mengikuti Kenaikan Bahan Baku Pada sisi lain, kenaikan harga bahan baku tidak dapat begitu saja diteruskan seluruhnya kepada konsumen. Jika seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada harga jual, kenaikan harga ban dapat menjadi terlalu tinggi untuk kondisi ekonomi saat ini. "Dengan perubahan harga raw material ini, mau enggak mau itu kita tidak bisa meng-adjust harga sesuai raw material. Karena, kalau kita ikuti adjust harga dolar AS naik begini, mungkin kita harus adjust harga 10 persen, 15 persen, enggak mungkin lah dalam kondisi ekonomi yang begini," kata Mukiat. Karena itu, perusahaan harus mencari keseimbangan antara kenaikan biaya produksi dan harga yang dapat diterima pasar. "Jadi, kalau kita secara jujur, sekarang ini antara kenaikan harga di pasar dan raw material price increase-nya, itu kenaikan harganya di bawah raw material price increase," ujar Mukiat. Bridgestone Asia Pacific India dan China (BSAPIC) Artinya, kenaikan harga produk di pasar masih lebih rendah dibandingkan kenaikan harga bahan baku. Kondisi ini menjadi tantangan bagi perusahaan untuk mempertahankan harga sekaligus menjaga standar produknya. Kenaikan harga bahan baku juga dikaitkan dengan faktor geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah. Kenaikan Bahan Baku Dipicu Faktor Geopolitik "Raw material price increase-nya gara-gara perang Timur Tengah, yang harusnya enggak terjadi. Tapi, ya kembali whatever it is geopolitical crisis, dan itu sudah di luar di luar narasi, sudah di luar kendali," kata Mukiat. Dengan faktor geopolitik yang berada di luar kendali perusahaan, strategi yang dapat dilakukan adalah melakukan penyesuaian dan beradaptasi terhadap kondisi pasar. Di tengah kenaikan biaya bahan baku dan kondisi ekonomi yang menantang, kemampuan menjaga keseimbangan antara harga, kualitas, keselamatan, dan daya tahan menjadi salah satu tantangan utama bagi industri ban.