Dinamika pasar otomotif nasional yang diwarnai gejolak ekonomi global kian menekan industri pendukung, tak terkecuali sektor manufaktur ban. Lonjakan harga bahan baku yang menembus angka double digit menjadi tantangan berat yang harus dimitigasi para produsen agar napas bisnis tetap terjaga tanpa mengorbankan rantai pasok. Menanggapi situasi tersebut, PT Gajah Tunggal Tbk memilih mengambil langkah terukur. Produsen ban terbesar di Indonesia ini menegaskan bahwa strategi penyesuaian harga tidak semata-mata didasari oleh fluktuasi biaya produksi, melainkan mempertimbangkan peta persaingan industri dan daya tahan para mitra bisnisnya. Elly Pudjiati, GM Domestic Sales Replacement PT Gajah Tunggal Tbk, mengatakan, pihak selalu melakukan penyesuaian harga setiap tahunnya. Pasalnya, biaya operasional juga naik setiap tahunnya. "Memang ada juga investasi dari raw material, tapi itu bukan menjadi penting banget buat kami. Karena kami kalau menaikkan harga, kita harus tahu posisinya di mana jika dibandingkan kompetitor lainnya," ujar Elly, saat ditemui di Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/7/2026). PT Gajah Tunggal Tbk Ikut Partisipasi di GIIAS 2022 Meredam Gejolak Bahan Baku Melonjaknya harga bahan baku utama—seperti karet alam, karet sintetis, hingga komponen kimia pendukung—memang menjadi beban nyata bagi produsen. Namun, Gajah Tunggal enggan membebankan lonjakan tersebut secara mentah-mentah kepada konsumen maupun jaringan distribusinya. Langkah menahan margin ini terbukti efektif. Di tengah gempuran kenaikan beban operasional dan harga komponen modal, permintaan pasar domestik untuk segmen kendaraan penumpang dinilai masih menunjukkan tren yang positif. "Jadi, sampai dengan hari ini penjualan dari PT Gajah Tunggal untuk passenger car masih stabil, meskipun kita menaikkan harga," kata Elly. Elly menambahkan, pihaknya juga memosisikan diri sebagai pebisnis. Sehingga, rekan bisnis tidak merasa dirugikan ketika produsen menaikkan harga. Paket pelek mobil yang dipadukan dengan ban GT Radial di GIIAS 2025. Menjaga Ekosistem Bisnis Sebagai pemegang merek ternama di Tanah Air, strategi penetapan harga dituntut untuk tidak sebatas mencari keuntungan jangka pendek. Keseimbangan antara profitabilitas pabrikan dan keberlangsungan bisnis para distributor serta pengecer menjadi kunci utama dalam menjaga ekosistem pasar replacement tetap sehat. "Jadi, kami dari PT Gajah Tunggal, memberikan kenaikan harga bukan cuma melihat apa yang terjadi di dalam kita," ujar Elly. "Kalau kita lihat, bahan baku, naiknya luar biasa, sampai double digit. Apakah kami menaikkan double digit juga? Enggak juga. Jadi, memang ada juga pertimbangan-pertimbangan lain, karena kami adalah pemilik merek," kata Elly. Ban Baru GT Radial Menurutnya, pemilik merek tidak bisa berpikir murni seperti pedagang. Pasalnya, pemilik merek juga harus memikirkan nasib dari rekan-rekan bisnis, distributor, dan lainnya. Dengan menjaga komitmen tersebut, perusahaan optimistis dapat terus memimpin pasar ban nasional sembari memastikan kelancaran pasokan di tingkat konsumen akhir. "Harga stabil, supply stabil, itu yang kami lakukan di PT Gajah Tunggal," ujarnya.