Industri otomotif Jepang disebut tengah menghadapi tekanan besar pada 2026 seiring meningkatnya persaingan global, perubahan teknologi, serta ketidakpastian perdagangan. Chief Executive Officer Toyota Motor, Koji Sato, menyebut sektor otomotif tengah menghadapi tantangan struktural yang dapat memengaruhi daya saing dalam jangka panjang. Sato yang juga menjabat sebagai Ketua Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA) selama satu tahun terakhir mengungkapkan, terdapat tujuh risiko utama yang dihadapi para produsen mobil Jepang, sebagaimana dikutip Auto World Journal, Kamis (29/1/2026). Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Ia menegaskan bahwa peningkatan daya saing global harus menjadi fokus utama strategi industri ke depan, dengan menekankan pentingnya penyelarasan prioritas bersama, bukan sekadar mengandalkan kekuatan tradisional yang selama ini dimiliki. Menurut Sato, Jepang memiliki modal kuat berupa sistem rantai pasok, pengelolaan data industri, serta kemampuan logistik yang selama ini menjadi keunggulan. Namun, potensi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal, terutama dalam penerapan kecerdasan buatan. Di sisi lain, industri masih bergantung pada impor material penting, seperti tanah jarang (rare earth) dan litium, yang membuat rantai pasok rentan terhadap gangguan global. Tekanan juga datang dari ketidakpastian perdagangan akibat tarif Amerika Serikat (AS) dan pembatasan ekspor China. Selain faktor eksternal, persaingan semakin ketat di sektor kendaraan listrik, kendaraan berbasis perangkat lunak, dan teknologi mengemudi otomatis. Dalam bidang tersebut, perusahaan asal China dan Amerika Serikat dinilai telah melangkah lebih cepat dibandingkan produsen Jepang. Peta jalan JAMA memuat strategi menuju netralitas karbon, penguatan ekonomi sirkular, serta reformasi sistem pajak kendaraan. Ilustrasi mobil listrik. Dokumen tersebut juga menekankan pentingnya investasi pada sumber daya manusia, khususnya di bidang perangkat lunak dan semikonduktor. Selain itu, produsen didorong memperkuat rantai pasok melalui standardisasi dan peningkatan skala produksi. Langkah tersebut dinilai penting setelah krisis semikonduktor mengungkap sejumlah kelemahan dalam sistem produksi. Sektor otomotif Jepang saat ini menopang lebih dari lima juta lapangan kerja dan tetap menjadi salah satu pilar utama perekonomian. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang