Ketidakpastian mengenai kelanjutan skema insentif atau subsidi untuk motor listrik di Indonesia terus menjadi perbincangan hangat. Di saat pasar menanti kejelasan regulasi, Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menegaskan komitmennya untuk tidak menggantungkan nasib industri pada bantuan dana dari pemerintah. Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi, mengungkapkan bahwa arah kebijakan pemerintah saat ini memang menunjukkan adanya skala prioritas yang berbeda antara kendaraan roda empat dan roda dua dalam hal pemberian stimulus. Ilustrasi booth Honda di Jakarta Fair 2026 yang menampilkan motor listrik. Mengapa Insentif Mobil Listrik Lebih Dahulu? Menurut Budi, berdasarkan informasi terakhir dari kementerian terkait, pemerintah cenderung mendahulukan bantuan atau skema pembelian untuk mobil listrik. Hal ini disebabkan oleh perbedaan mendasar pada skema pembiayaan yang digunakan oleh negara. Untuk mobil listrik, mekanisme yang diterapkan adalah Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPNDTP). Melalui skema ini, pemerintah tidak perlu mengeluarkan modal atau dana tunai di depan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan hanya potensi kehilangan penerimaan pajak dari setiap transaksi penjualan unit baru. Kondisi ini berbeda dengan motor listrik yang membutuhkan skema subsidi langsung. "Kalau motor listrik ini kan subsidi, berarti pemerintah harus menyiapkan dana baru. Dana dari mana untuk nanti dimasukkan dalam anggarannya Kementerian Perindustrian. Jadi, sampai dengan sekarang kami masih menunggu saja," kata Budi kepada Kompas.com, Minggu (19/7/2026). Dampak Psikologis: Konsumen Wait & See Budi tidak menampik bahwa bergulirnya wacana atau isu mengenai insentif baru kerap kali menjadi pisau bermata dua bagi para pelaku industri. Di satu sisi memberikan angin segar, namun di sisi lain justru menahan laju penjualan unit di lapangan secara mendadak. Setiap kali ada pernyataan dari pejabat negara mengenai rencana pemberian atau perubahan nilai subsidi, konsumen cenderung mengambil sikap wait & see. Calon pembeli memilih menunda transaksi dengan harapan bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah setelah aturan baru resmi diketuk. Fokus Jualan dan Bangun Industri Tanpa Subsidi Menyikapi ketidakpastian regulasi insentif tersebut, Aismoli mengimbau seluruh produsen dan pelaku industri roda dua elektrik di tanah air untuk mengubah pola pikir. Industri diharapkan tidak bersikap pasif dan hanya menggantungkan operasionalnya pada subsidi. Aismoli mendorong para anggotanya untuk tetap fokus pada agenda kerja yang sudah direncanakan, seperti memperkuat lini pemasaran (marketing), meningkatkan kualitas layanan pascajual, serta terus membangun fondasi industri yang kokoh secara mandiri. "Kita sudah sering menghadapi situasi kayak gini. Artinya, ya sudah, yang penting kita kerja untuk bangun industri, kemudian kita kerja untuk marketing dan sebagainya tanpa ada subsidi dulu lah," ujar Budi. Langkah ini dinilai krusial agar ekosistem kendaraan listrik di Indonesia dapat tumbuh secara organik dan memiliki daya tahan bisnis yang kuat, tanpa harus terus-menerus ditopang oleh stimulus finansial dari pemerintah.