Mobil tidak disarankan untuk melewati genangan air atau banjir, karena dampak kerugiannya tetap ada meski kerusakannya tergantung kedalaman air. Namun, dalam kondisi darurat, terkadang pengendara terpaksa harus melewati genangan air. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisasi mogok saat melewati banjir? Eko Setiawan, pemilik bengkel mobil Everest Motors Bintaro, Tangerang Selatan mengatakan pengendara harus bisa memperkirakan kedalaman banjir. “Sebenarnya mobil memiliki batas dalam melewati banjir, maksimal setengah ban atau rata dengan lantai dasar mobil, tujuannya agar air tidak masuk kabin dan ruang mesin secara berlebihan,” ucap Eko kepada KOMPAS.com, Selasa (4/11/2025). Bila kedalaman banjir lebih dari setengah ban, termasuk ketika ada ombak, maka air berpotensi masuk ke area yang seharusnya kering. Selain risiko mogok tinggi, laju mobil juga menjadi terhambat karena air. “Beban mesin akan bertambah, sehingga lebih berat, sementara memacu mobil dengan kecepatan tinggi berisiko, dan bisa mengganggu pengguna jalan lain, maka dari itu sebaiknya pengemudi mematikan AC,” ucap Eko. Ilustrasi AC mobil kurang dingin Dengan mematikan AC, beban mesin hanya fokus untuk menggerakkan roda sehingga lebih ringan meski mobil melaju secara perlahan dengan putaran mesin rendah. Selain itu, pengemudi juga perlu menahan gas secara konstan, jangan sampai ngedrop di tengah-tengah banjir. Pasalnya, air bisa saja memenuhi lubang knalpot dan membuat mobil mogok. “Bila air masuk ke lubang knalpot karena gasnya melemah, maka tekanan gas buang yang lemah akan tergantikan oleh air, semakin dalam posisi lubang knalpot, tekanan air juga semakin besar,” ucap Eko. Ilustrasi proses memanasi mesin mobil sebelum digunakan Ketika mobil sempat mogok di tengah banjir, menurut Eko, konsumen juga tak disarankan menghidupkan mesin kembali. Alasannya, ada kemungkinan air sudah masuk ke ruang bakar. “Bila mesin di-starter lagi, dan ternyata air sudah masuk lewat saluran udara, maka putaran awal tersebut akan memperparah water hammer, piston dan blok mesin bisa rusak lebih parah,” ucap Eko. Selain dari bawah, pengendara juga perlu memperhatikan air yang arahnya dari atas sperti hujan atau ombak dari pengendara lainnya. Pastikan tidak membasahai area mesin, khususnya kelistrikan, dengan menutuo kap mesin dengan rapat. Maka dari itu, mobil tidak disarankan menerobos banjir. Bila dalam kondisi terpaksa, selama masih batas kedalaman aman, banjir bisa diterobos dengan mengikuti cara di atas. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.