Kabut asap menjadi salah satu kondisi yang sering dianggap sepele oleh pengendara. Padahal, ketika jarak pandang mulai terbatas, risiko kecelakaan bisa meningkat karena pengendara membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali objek di depan hingga mengambil keputusan. Hal tersebut terjadi di Jalan Gubernur Soebardjo, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), Senin (31/8/2026). Saat kabut asap menyelimuti jalan, seorang pengendara sepeda motor berinisial A (31) meninggal dunia setelah menabrak bagian belakang truk yang melaju di depannya. Korban yang merupakan warga Desa Pemurus, Kecamatan Aluh-aluh, Kabupaten Banjar, diduga tidak melihat keberadaan truk akibat jarak pandang yang terganggu. Kasat Lantas Polres Banjar, Iptu Agung membenarkan kejadian tersebut. Setelah kecelakaan, jenazah korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin. "Iya benar, saat ini masih dalam penanganan Penegakan Hukum atau Gakkum Satlantas Polres Banjar," ujar Agung, mengutip , Rabu (2/9/2026). Kabut asap akibat Karhutla di Bulungan berdampak ke Nunukan. Kabut terlihat lumayan pekat dari jalan utama Nunukan. Jarak Pandang Terbatas, Pengendara Harus Ubah Cara Berkendara Dari kejadian tersebut, ada beberapa hal yang bisa dipelajari pengendara, terutama ketika menghadapi kondisi jalan dengan visibilitas rendah seperti kabut asap. Saat jarak pandang menurun, pengendara tidak bisa menggunakan pola berkendara normal seperti kondisi jalan cerah. Kecepatan perlu dikurangi agar pengendara memiliki waktu lebih banyak untuk bereaksi ketika menemukan hambatan di depan. Kepala Seksi Humas Polres Banjar, AKP Alfian Noor mengimbau pengendara memperhatikan kondisi jarak pandang ketika kabut asap menyelimuti jalan raya. Menurut dia, kondisi tersebut membuat tingkat kerawanan kecelakaan meningkat karena pandangan pengendara menjadi terbatas. Pengendara pun disarankan menyalakan lampu utama dan mengurangi kecepatan. Jangan Paksa Berkendara Cepat Saat Pandangan Terbatas Head of Safety Riding Promotion Wahana, Agus Sani mengatakan, pengendara harus menyesuaikan gaya berkendara dengan kondisi lingkungan sekitar. Menurutnya, ketika jarak pandang mulai terganggu, pengendara tidak boleh memaksakan diri tetap melaju dengan kecepatan tinggi. "Kurangi kecepatan, tambah jarak aman dengan kendaraan di depan, dan hindari melakukan manuver atau menyalip jika pandangan kita terbatas," ujar Agus. Agus menjelaskan, kabut asap dapat membuat objek di depan kendaraan terlihat lebih lambat untuk dikenali oleh mata pengendara. Kondisi tersebut tentu berpengaruh terhadap waktu reaksi, baik ketika harus melakukan pengereman maupun menghindari potensi bahaya di jalan.