— YouTuber sekaligus kreator konten Andra ST akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka usai terlibat kecelakaan tunggal hebat yang menyebabkan sebuah supercar McLaren 720S Coupe terbelah menjadi dua bagian. Insiden mengerikan tersebut terjadi di Jalan Raya Sukoharjo-Solo, tepatnya di depan RM Pak Cipto, Kelurahan Telukan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Rabu (8/7/2026) dini hari. Melalui video yang diunggah di akun media sosialnya pasca-kejadian, Andra membeberkan kronologi singkat insiden tersebut. Menurutnya, mobil mewah yang ditungganginya tengah melaju dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya roda belakang kehilangan kendali. McLaren 720S Coupe Ia juga menegaskan bahwa dirinya bersama rekannya sesama kreator konten, Robby Adek Pantjoro, dalam kondisi selamat dan memastikan tidak berada di bawah pengaruh alkohol saat berkendara. "Memang murni kecelakaan tunggal karena ban belakang dari mobilnya nyelip karena memang kenceng ya," ujar Andra ST dikutip dari akun Instagram resminya @andrastyt_. Andra menambahkan, peristiwa itu terjadi setelah mereka selesai menyaksikan tayangan pertandingan sepak bola melalui live streaming. Kendati kondisi mobil ringsek parah dan terbelah, ia bersyukur seluruh penumpang dalam kondisi sadar dan kini hanya memerlukan masa pemulihan. "Dan mohon maaf untuk Bang Robby dan setim. Semoga semua baik-baik aja. Mohon maaf sebesar-besarnya ya, guys," pungkasnya. McLaren 720S Coupe Kronologi Versi Kepolisian Secara terpisah, Kanit Gakkum Satlantas Polres Sukoharjo, Iptu Ardian, mengungkapkan bahwa kecelakaan tunggal tersebut dilaporkan terjadi pada Rabu sekitar pukul 01.45 WIB. Berdasarkan data kepolisian, supercar McLaren dengan nomor polisi B-331 itu dikemudikan oleh FPA (21), seorang mahasiswa asal Sukoharjo. Di dalam kabin, terdapat satu penumpang berinisial RAP (21), warga Jakarta Timur. Beruntung, keduanya hanya mengalami luka ringan. Ardian menjelaskan, mobil awalnya melaju dari arah Sukoharjo menuju Solo. Namun, saat memasuki lokasi kejadian, pengemudi diduga kehilangan fokus dalam berkendara. McLaren 720S Coupe "Semula kendaraan McLaren berjalan dari arah selatan ke arah utara. Sampai di TKP, pengemudi diduga kurang konsentrasi saat berkendara sehingga oleng ke kiri," ujar Ardian dilansir dari Kompas.com, Rabu (8/7/2026). Akibat kehilangan kendali, mobil sport tersebut langsung menghantam pagar, tiang telepon, serta tiang listrik secara beruntun. Hantaman yang sangat keras membuat bodi belakang McLaren terputus menjadi dua bagian, sementara moncong depan mobil masih meluncur dan baru berhenti setelah menabrak pembatas jalan beton. Tak sampai di situ, saking hebatnya benturan, komponen aki mobil sampai terlempar keluar dari kap mesin hingga merusak fasilitas publik di sekitar lokasi. McLaren 720S Coupe "Kemudian oleng ke kiri berhenti di atas trotoar selanjutnya aki kendaraan McLaren terlempar mengenai pintu kaca Indomaret, maka terjadilah laka lantas tunggal," katanya. Pihak Satlantas Polres Sukoharjo memastikan tidak ada kendaraan lain maupun pejalan kaki yang menjadi korban dalam peristiwa ini. Kasus ini murni dinyatakan sebagai kecelakaan tunggal yang dipicu oleh faktor kelalaian atau kurangnya konsentrasi pengemudi. Analisis Ahli Safety Driving Menanggapi kejadian tersebut, Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan, supercar atau sportcar itu kendaraan yang pengemudinya dalam berkendara harus punya teknik khusus. "Selain harus melibatkan emosi yang stabil, juga tidak boleh lenggah sedikit pun. Power mesin yang buas menuntut fokus pengemudi yang tinggi," ujar Sony, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. "Karena sekali injak pedal gas sudah harus memperhitungkan kondisi lingkungan 0-100 meter di depan dan seberapa pendek mobil mampu berhenti sempurna saat direm. Jadi, modal bisa mengemudi saja tidak cukup," kata Sony. McLaren 720S Coupe Sony menambahkan, kecepatan tinggi itu relatif. Akhirnya pasti berhubungan dengan selip ban. Jadi, tergantung kesiapan pengemudi dalam menyikapi kondisi lingkungan jalan dan kelebihan dari kendaraannya. "Jika 3 hal di atas tidak diperhitungkan dengan seksama atau diabaikan, maka yang terjadi adalah overspeed. Contoh, jam 8 malam ke atas, kemampuan motorik dan sensorik pengemudi melambat atau turun, maka secara otomatis kecepatan kendaraan disesuaikan melambat supaya waktu reaksi dan kecepatan meluncur seimbang," ujarnya. Begitu juga berkecepatan di atas 90 km/jam, menurut Sony, jika dilakukan di dalam perkotaan, maka termasuk overspeed, apalagi sportcar yang tenaganya besar. "Jika dilihat dari kondisi kendaraan setelah kecelakaan, menggambarkan yang bersangkutan menghantam benda dengan kecepatan tinggi atau lagi berakselerasi, itu enggak bisa bohong sih," kata Sony. "Jadi, selip ban adalah reaksi ban kehilangan daya cengkeram di permukaan jalan yang diakibatkan oleh pengemudi saat hilang kendali," ujar Sony.