JAKARTA, KOMPAS.com - Insiden mobil Toyota Fortuner yang mengalami rem blong di jalur Cangar–Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, kembali mengingatkan pentingnya memahami risiko vapor lock saat melintasi turunan panjang di kawasan pegunungan. Rekaman kecelakaan tersebut sempat beredar di media sosial, salah satunya diunggah oleh akun Instagram @mojokertohits_. Dalam tayangan tersebut, Fortuner tampak melaju cukup kencang di jalur menurun. Situasi sempat membuat panik, mengingat jalur Cangar–Pacet dikenal memiliki kontur turunan tajam dan kerap menjadi lokasi insiden kendaraan kehilangan fungsi pengereman. Beruntung, pengemudi Fortuner tersebut berhasil mengarahkan mobil ke jalur penyelamat yang memang telah disediakan. Berkat fasilitas tersebut, insiden tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Kebiasaan pengemudi yang terlalu mengandalkan pedal rem saat menuruni jalan menjadi pemicu utama terjadinya vapor lock. Pengereman yang dilakukan terus-menerus membuat suhu sistem rem meningkat secara signifikan. Saat suhu naik, minyak rem bisa mengalami pemanasan berlebih. Masalah akan semakin besar apabila minyak rem tidak diganti secara berkala, karena kandungannya berpotensi tercampur air. Ketika panas, air tersebut akan menguap dan membentuk uap air di dalam sistem pengereman. Uap air ini berbahaya karena sifatnya bisa terkompresi. Ilustrasi minyak rem mobil Akibatnya, tekanan dari pedal rem tidak tersalurkan dengan maksimal ke kampas rem. Kondisi tersebut dikenal sebagai vapor lock. Gejalanya, pedal rem terasa kosong, harus diinjak berulang kali, hingga akhirnya rem benar-benar kehilangan daya pengereman. Untuk mencegah kejadian serupa, Kepala Bengkel Auto2000 Pramuka, Jakarta Timur, Suparna, menyarankan pengemudi agar tidak hanya mengandalkan pedal rem saat melintasi turunan panjang, terutama di jalur pegunungan. "Lakukan pengereman dengan standar yang lebih tinggi, bukan hanya mengandalkan rem tetapi juga membantu dengan mengoperasikan transmisi sesuai dengan kondisi, menurunkan gigi transmisi yang dibutuhkan (engine brake)," ucap Suparna, Jumat (2/1/2025). Pemanfaatan engine brake menjadi kunci utama. Dengan menurunkan gigi transmisi, laju kendaraan bisa tertahan oleh putaran mesin sehingga beban pengereman tidak sepenuhnya ditanggung sistem rem. Selain itu, kondisi minyak rem juga harus diperhatikan. Penggantian minyak rem secara berkala penting dilakukan untuk mencegah kandungan air yang berlebihan di dalam sistem. "Minyak rem sebaiknya dilakukan penggantian secara berkala yaitu setiap servis 40.000 Km, itu dilakukan dengan pengurasan dan penggantian agar kondisinya prima lagi," kata Suparna. Para pengemudi juga sebaiknya memberi jeda pada sistem rem apabila merasa performanya mulai menurun, misalnya dengan berhenti sejenak di tempat aman untuk menurunkan suhu rem. Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pemahaman teknik berkendara di medan ekstrem dan perawatan kendaraan yang tepat sangat krusial, terutama saat melintasi jalur menurun panjang yang berisiko tinggi. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang