Transmisi pada mobil matik lebih sensitif terhadap panas berlebih atau overheating, dibandingkan yang model manual. Bila dibiarkan, panas bisa membuat kualitas oli transmisi cepat menurun, selip kopling, bahkan membuat transmisi jebol. Lantas, bagaimana cara mencegah overheating transmisi matik? Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten mengatakan oli transmisi pada mobil matik memiliki beberapa peran, tak hanya sebagai fluida pentransfer tenaga dan pelumas. “Oli di transmisi matik juga sebagai pendingin komponen, oli ini akan bersirkulasi dan pada cooler akan didinginkan oleh air radiator, sehingga suhunya tetap stabil harapannya,” ucap Imun kepada Kompas.com, Selasa (28/10/2025). Untuk mencegah terjadinya overheating, maka konsumen wajib memperhatikan kualitas oli transmisi tersebut baik yang ada pada AT konvensional atau pun CVT. “Ganti secara berkala, setiap 40.000 Km, atau lebih sering jika beban kerjanya lebih berat seperti sering putaran tinggi, muatan, dan sering terjebak macet yang membuat oli terpapar panas lebih sering,” ucap Imun. Ilustrasi ganti oli transmisi Oli transmisi yang sudah jelek cenderung tak mampu mendinginkan komponen dengan optimal, dan mempercepat panas pada transmisi. “Ciri oli transmisi sehat warnanya jernih dan tidak berbau gosong, jika sudah coklat kehitaman sebaiknya segera diganti, ini akan lebih efektif mencegah overheating,” ucap Imun. Sebagian mobil matik punya oil cooler khusus atau jalur pendinginan oli transmisi ke radiator. Sehingga, untuk mencegah panas berlebih pada transmisi juga perlu menjaga sistem pendingin mesin tetap prima. “Pastikan radiator bersih dan tidak pampat, periksa selang dan sambungan oil cooler agar tidak tersumbat atau bocor, penting pakai coolant agar lebih optimal,” ucap Imun. Ilustrasi kickdown pedal gas Selain itu, cara berkendara juga menentukan apakah transmisi akan mengalami panas berlebih. Seperti berkendara agresif, dengan melakukan akselerasi mendadak dan rem mendadak. “Cara itu bikin transmisi bekerja keras, sehingga suhu cepat naik, hindari kickdown terlalu sering, atau memaksakan mobil matik menanjak, dengan putaran mesin tinggi terlalu lama, sementara roda bergerak pelan,” ucap Imun. Pengemudi juga perlu memindahkan tuas transmisi ke netral saat kondisi macet atau berhenti cukup lama seperti di lampu merah. Posisi “D” saat berhenti membuat torque converter tetap berputar, menimbulkan panas tanpa aliran udara pendingin dari depan mobil. Ilustrasi dipstick oli Hardi Wibowo, pemilik bengkel Spesialis Nissan - Honda Yogyakarta mengatakan untuk mencegah transmisi overheating, konsumen perlu memastikan volume oli transmisi cukup. “Cek saat mesin hidup dan oli panas, sesuai petunjuk buku manual, pastikan berada di level cukup, bisa melihat di dipstick, bila oli kurang, tekanan hidrolik menjadi tak stabil,” ucap Hardi kepada Kompas.com, Selasa (28/10/2025). Tekanan fluida tak stabil akan memicu berbagai kerusakan komponen transmisi termasuk overheating. Bila kelompok kopling internal selip, maka gesekan meningkat, dan panas tinggi. Ilustrasi mobil hybrid di tanjakan pegunungan. “Mobil matik pakai kopling fluida, maka dari itu dia kurang cocok untuk muatan berat dan jalan menanjak, transmisi matik butuh kerja ekstra untuk menahan beban berat, sehingga cepat panas karena prinsip kerja kopling fluida,” ucap Hardi. Kesimpulan, untuk mencegah transmisi pada matik overheating, berikut poin penting yang perlu dilperhatikan: Gunakan dan ganti oli sesuai rekomendasi Pastikan pendingin oli bekerja baik Hindari gaya berkendara ekstrem Jangan tahan lama di posisi D saat berhenti Pastikan volume oli transmisi cukup Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.