Ada banyak faktor penyebab mobil gagal menanjak, baik yang berasal dari dalam maupun luar. Oleh karena itu, pengendara perlu jeli saat memilih rute sebelum melakukan perjalanan agar tidak mengalami kendala di jalan. Faktanya, tidak semua mobil mampu melibas semua jenis tanjakan atau jalan terjal. Bahkan, risiko ketika mengalami kegagalan bisa sangat besar, seperti mobil terperosok dan sejenisnya. Berikut ini adalah faktor-faktor utama yang membuat mobil gagal menanjak, baik mobil manual maupun matik, menurut para ahli. Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten, mengatakan bahwa tidak semua mobil dibekali dapur pacu yang mumpuni untuk melibas tanjakan ekstrem, terlebih lagi jika membawa muatan penuh. “Saat menanjak, beban mesin meningkat. Maka dari itu, pengemudi harus bijak. Misalnya, jika mesinnya kecil, tenaga yang dihasilkan pasti lebih kecil, sehingga peluangnya untuk berhasil sedikit,” ucap Imun kepada KOMPAS.com, Jumat (14/11/2025). Sebuah tronton bermuatan wiremes atau anyaman besi cor terguling sampai menimpa 2 pemotor di Tanjakan Gentong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (21/10/2025). Banyak kejadian mobil kehabisan napas, putaran mesin turun padahal sudah mengambil ancang-ancang dan dioperasikan dengan baik. Terlebih lagi, pengemudi belum piawai. SUV Jaecoo J8 menaklukkan tanjakan curam dalam sesi pengujian off-road. “Saat menanjak, pengemudi harus menggunakan gigi rendah untuk mobil manual, sementara mobil matik bisa memilih percepatan rendah seperti L, 1, 2, dan S. Tujuannya agar torsinya optimal,” ucap Imun. Torsi mobil saat menanjak yang lemah juga bisa disebabkan oleh performa yang menurun, seperti perawatan yang jarang dilakukan, mobil tua, dan sebagainya. “Ketika kompresi mesin sudah lemah, busi haus, filter udara kotor, injektor mampat, dan sejenisnya, maka tenaga yang dihasilkan mesin akan kurang. Ini akan membuat mobil dengan mesin kapasitas besar pun tidak sanggup menanjak,” ucap Imun. Jalur Sitinjau Lauik selama ini dikenal berbahaya karena memiliki kelokan tajam dan tanjakan curam, yang kerap memicu kemacetan hingga kecelakaan fatal. Selain faktor internal, mobil gagal menanjak juga bisa dipengaruhi oleh kondisi medan jalan yang terlalu ekstrem dan muatan yang terlalu berat. Eko Setiawan, pemilik bengkel mobil Everest Motors Bintaro, Tangerang Selatan, mengatakan bahwa muatan dan kemiringan jalan akan membuat beban mesin semakin berat karena gaya gravitasi. “Bagasi atau penumpang penuh, dan kemiringan jalan akan membuat hambatan dari gaya gravitasi bumi semakin besar. Efeknya, membutuhkan torsi jauh lebih tinggi. Bila tidak, mobil lebih mudah kehilangan tenaga,” ucap Eko kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Selain itu, kondisi permukaan jalan juga akan menjadi tantangan tersendiri, seperti basah, berpasir, dan berkerikil. Hal itu akan membuat roda mobil mudah kehilangan traksi. “Tapak ban bisa kurang mencengkeram, sehingga mudah berdecit dan memutar di tempat. Akhirnya, mobil tertahan bahkan bisa meluncur mundur. Ini sudah tidak bisa dipaksakan,” ucap Eko. Maka dari itu, pengendara perlu memperhitungkan dengan baik sebelum memilih rute. Perhatikan jenis mobil yang digunakan, beban muatan, cuaca, dan bila ada pilihan rute lain yang lebih landai, bisa jadi rujukan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.