Dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps). Kenaikan ini menjadi yang pertama dilakukan sejak 2023. Kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed, apakah langsung berdampak pada cicilan kredit kendaraan bermotor di Indonesia? Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan, dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap pembiayaan kendaraan masih harus dilihat dari respons Bank Indonesia (BI) dan perbankan di dalam negeri. Menurut dia, perusahaan pembiayaan banyak mengandalkan pinjaman dari perbankan sebagai salah satu sumber pendanaan. Karena itu, apabila perbankan menyesuaikan suku bunganya, biaya pendanaan perusahaan pembiayaan juga berpotensi berubah. Gedung bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed). “Kita tunggu dulu. Nah kalau terjadi, balik lagi ke perbankan nih. Perbankan tentu akan bereaksi kan. Kalau pun itu terjadi kenaikan kepada pembiayaan kendaraan bermotor dan mobil, perbankan mungkin, karena kita banyak tergantung dari bank pinjamannya, pasti menaikkan suku bunga,” ujar Suwandi, kepada Kompas.com, Kamis (17/9/2026). Meski demikian, perubahan tersebut tidak akan langsung dibebankan kepada konsumen yang saat ini sudah memiliki kontrak pembiayaan. “Tapi tidak akan berpengaruh kepada debitur yang sedang berjalan,” kata dia. Daihatsu memperkenalkan tiga kendaraan dengan penyegaran baru, yaitu New Astra Daihatsu Sigra, Terios Special Edition, dan Gran Max Blind Van 1.5 M/T AC PS pada ajang GIIAS 2026. Kredit Baru Terdampak Suwandi menjelaskan, potensi penyesuaian bunga justru akan berlaku terhadap debitur baru apabila terjadi perubahan biaya pendanaan. “Debitur baru nanti kalau ada kenaikan pasti kita juga akan adjust dong. Kita akan melakukan apa namanya penyesuaian,” ucap Suwandi. Dengan demikian, konsumen yang sedang mempertimbangkan membeli mobil atau sepeda motor secara kredit perlu mencermati perkembangan suku bunga dalam negeri. Ilustrasi suku bunga. Namun, besaran perubahan cicilan nantinya tetap bergantung pada kebijakan BI, kondisi perbankan, serta keputusan perusahaan pembiayaan. “Kita tunggu dong threat BI gimana, BI melihatnya seperti apa, dan segalanya ya. Terus habis dari BI, tentu reaksi perbankan kan gimana, likuiditas gimana,” kata Suwandi. Ekonom: Kenaikan Bisa Lebih dari 25 Bps Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai kenaikan suku bunga The Fed berpotensi diteruskan ke sektor kredit konsumsi, termasuk pembiayaan kendaraan. “Jadi arah dari suku bunga The Fed yang naiknya cukup agresif ya. Ini salah satu kenaikan yang cukup mengejutkan dari The Fed,” ujar Bhima, kepada Kompas.com (17/9/2026). Booth Suzuki di GIIAS 2026 Menurut Bhima, dampaknya terhadap bunga kredit otomotif dapat lebih besar dibandingkan kenaikan suku bunga The Fed yang sebesar 25 basis poin (bps). Hal ini karena terdapat mekanisme transmisi melalui kebijakan moneter domestik dan biaya pendanaan lembaga keuangan. “Maka efeknya tentu pada suku bunga kredit terutama kredit konsumsi, kredit otomotif itu kenaikannya akan lebih dari 25 basis poin,” kata dia. Bhima menilai potensi kenaikan bunga kredit tersebut perlu diperhatikan karena terjadi ketika kondisi ekonomi, terutama pada kelompok masyarakat kelas menengah, masih menghadapi tekanan.