Industri perusahaan pembiayaan atau multifinance masih mencatatkan pertumbuhan pada Semester I 2026. Namun, laju pertumbuhan tersebut belum sesuai dengan target yang diharapkan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI). Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno mengatakan, perlambatan tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor ekonomi, terutama daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya menguat. “Kondisi industri pembiayaan masih tetap tumbuh (pada Semester I 2026). Ya, memang kita harap tumbuh 6 persen tapi memang masih di kisaran 2 persen,” ujar Suwandi, kepada Kompas.com (17/9/2026). Ilustrasi kredit mobil oleh Astra Credit Companies (ACC). “Ya, memang agak berat karena tentunya dampaknya banyak faktor terkait perlambatan, terkait dengan penurunan daya beli yang masih belum menguat dan segalanya,” kata dia. Tekan Pertumbuhan Kondisi tersebut berpotensi menjadi semakin menantang apabila kenaikan suku bunga global kemudian diikuti penyesuaian suku bunga di dalam negeri. Suwandi mengatakan, apabila terjadi kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebagai dampak dari perubahan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), perusahaan pembiayaan juga perlu mempertimbangkan penyesuaian bunga pembiayaan. Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan, BI Rate. Menurut dia, persoalannya bukan hanya terletak pada kemampuan perusahaan pembiayaan menanggung kenaikan biaya dana, tetapi juga kemampuan masyarakat membayar cicilan. “Ya, kembali lagi kalau misalnya ada kenaikan, dan kita melakukan penyesuaian suku bunga yang sangat besar di kita, nanti akan terjadi adalah bagaimana dampak daya beli masyarakat untuk cicilan dan segalanya,” ujar Suwandi. Suwandi menjelaskan, masyarakat akan kembali menyusun prioritas pengeluaran apabila cicilan kendaraan mengalami kenaikan. Ilustrasi kredit kendaraan bermotor, kredit mobil. Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan cicilan dapat membuat konsumen mengalihkan pengeluaran untuk kebutuhan lain. “Masyarakat pasti punya prioritas, betul enggak? Prioritas beli kendaraan dengan cicilan yang lebih tinggi sedikit, atau dia pakai yang lain. Atau prioritas ke bahan pokok dulu, makanan, apa dan segalanya, baru kan cicilan selanjutnya,” ucap dia. Suasana Pameran GIIAS 2026 Piutang Tembus Rp 513 Triliun Meski pertumbuhan industri masih di bawah target APPI, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan sektor perusahaan pembiayaan tetap mencatatkan ekspansi hingga pertengahan 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengatakan, piutang pembiayaan perusahaan multifinance tumbuh 12,01 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada Juli 2026. “Piutang pembiayaan dari perusahaan pembiayaan tumbuh sebesar 12,01 persen year on year (yoy) pada Juli 2026 menjadi sebesar Rp 513,05 triliun,” ujar Agusman dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK awal September lalu. Ilustrasi logo OJK. Pertumbuhan tersebut salah satunya ditopang oleh pembiayaan modal kerja yang meningkat 6,32 persen secara tahunan. Capaian tersebut menunjukkan aktivitas industri pembiayaan masih ekspansif meskipun perusahaan multifinance menghadapi tantangan daya beli masyarakat. Suwandi berharap berbagai kebijakan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dapat turut memperkuat daya beli masyarakat. Hal ini dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan industri pembiayaan, terutama jika kondisi suku bunga kembali mengalami perubahan. “Ini kan pemerintah menginginkan pertumbuhan ekonomi 6 persen. Artinya pemerintah menginginkan daya beli ini bisa meningkat,” kata Suwandi.