Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi masih membayangi publik dan berpotensi mendorong inflasi secara luas. Dalam kondisi ini, langkah cepat untuk menekan konsumsi BBM dinilai menjadi kunci untuk meredam dampak yang lebih besar terhadap perekonomian. Pakar konversi energi dan dosen teknik di Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri menilai, strategi jangka pendek yang paling realistis adalah mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan energi. Ia menyebut, ada sejumlah langkah yang bisa segera dilakukan dalam jangka pendek. "Strategi yang segera bisa diimplementasikan adalah penghematan penggunaan BBM, seperti work from home (WfH), migrasi ke kendaraan dan kompor listrik, mengurangi mobilitas masyarakat, pembatasan penjualan BBM," kata Tri kepada Kompas.com, Sabtu (4/4/2026). Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan energi alternatif sebagai bagian dari solusi. "Mengonversi PLTD menjadi PLTS, pemanfaatan gas alam untuk industri, kendaraan dan rumah tangga, serta pemanfaatan bahan bakar nabati seperti B50 dan E20," ujarnya. Dari berbagai opsi tersebut, langkah berbasis perubahan perilaku dinilai paling cepat diterapkan. Test drive mobil listrik GAC Indonesia Menurut dia, kebijakan seperti WfH efektif menekan mobilitas harian, terutama di kota-kota besar. Dengan berkurangnya perjalanan rutin, konsumsi BBM bisa ditekan secara signifikan tanpa perlu intervensi teknis yang kompleks. Selain itu, percepatan migrasi ke kendaraan listrik juga dinilai bisa menjadi solusi cepat, khususnya untuk penggunaan di perkotaan. Meski belum masif, tren penggunaan kendaraan listrik mulai menunjukkan potensi dalam mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Tidak hanya di sektor transportasi, perubahan juga bisa dilakukan di sektor rumah tangga. Penggunaan kompor listrik, misalnya, dapat mengurangi konsumsi energi berbasis fosil jika diiringi dengan pasokan listrik yang semakin bersih. Di sisi lain, pemerintah juga didorong untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi alternatif seperti gas alam dan bahan bakar nabati. Campuran biodiesel (B50) dan bioetanol (E20) dinilai dapat menjadi solusi transisi yang relatif cepat untuk menekan konsumsi BBM berbasis minyak bumi. Namun, Tri mengingatkan bahwa efektivitas langkah-langkah ini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan dukungan masyarakat. Tanpa partisipasi aktif dari berbagai pihak, upaya penghematan energi akan sulit mencapai hasil yang optimal. Dengan kebijakan yang tepat serta perubahan perilaku yang berkelanjutan, strategi jangka pendek ini diharapkan mampu meredam dampak kenaikan harga BBM sekaligus menjadi langkah awal menuju transisi energi yang lebih berkelanjutan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang