Setelah satu tahun menggunakan Denza D9, Nico Hartono, warga Cipondoh, Tangerang, mulai merasakan karakter asli MPV listrik premium tersebut. Mobil yang dibelinya pada Juli 2025 untuk kebutuhan keluarga dan perjalanan akhir pekan itu kini sudah menempuh sekitar 7.000 kilometer. Menurut Nico, kesan pertama yang paling menonjol adalah kelengkapan fitur. Ia menilai Denza D9 menawarkan fitur yang lebih lengkap dibanding mobil lain di kisaran harga serupa. Denza D9 di GJAW 2025 “Kalau kelebihan sih sudah pasti fitur. Dibandingkan mobil lain dengan harga serupa, pastilah dia menang,” ujar Nico kepada Kompas.com (20/7/2026). Selain fitur, performa juga menjadi nilai plus. Meski berbodi besar dan berbobot sekitar 2 ton, akselerasi Denza D9 disebut tetap responsif dan nyaman untuk dikendarai, baik di dalam kota maupun di jalan tol. Kelebihan lain yang paling dirasakan keluarga adalah kenyamanan kursi baris kedua. Nico menyebut kursi tengah dilengkapi layar kontrol yang memungkinkan penumpang mengatur AC, musik, hingga berbagai fungsi kursi tanpa harus meminta bantuan pengemudi atau penumpang depan. Denza D9 dilengkapi DiLink Intelligent Interactive System yang mengintegrasikan berbagai fitur hiburan dan pengaturan kendaraan. Biaya operasional jadi daya tarik utama Sebagai mobil listrik, Denza D9 juga unggul dari sisi biaya operasional. Nico mengaku pengeluaran untuk pengisian daya sangat rendah. “Enak banget, biaya ngecas murah. Apalagi kalau cas di rumah,” kata Nico. Ia juga sudah menjalani dua kali servis berkala dan seluruhnya masih gratis, termasuk penggantian filter AC saat servis satu tahun. Interior Denza D9 Selama pemakaian, masalah yang muncul tergolong ringan. Pintu geser sempat menimbulkan bunyi saat dibuka, tetapi berhasil diatasi dengan pembersihan dan pelumasan ulang di bengkel resmi. Kekurangan Denza D9 versi pengguna Meski puas secara keseluruhan, Nico menemukan beberapa hal yang menurutnya perlu diperbaiki dan bisa ditingkatkan oleh Denza. Pertama, absennya layar hiburan untuk penumpang baris kedua. Padahal kursi tengah merupakan area paling nyaman di mobil ini. Kedua, pengaturan kursi baris ketiga dinilai kurang praktis. Saat kursi tengah direbahkan ke posisi zero gravity, ruang penumpang belakang bisa menjadi sempit karena kursi baris ketiga tidak bisa mundur lebih jauh. MPV listrik Denza D9 sudah muncul di pasar mobil bekas. Kekurangan ketiga adalah jarak tempuh yang jauh menurun signifikan saat digunakan ke daerah pegunungan. Nico mencontohkan perjalanan ke Bandung yang didominasi tanjakan membuat konsumsi baterai jauh lebih boros dibanding klaim pabrikan. “Kalau ke Bandung itu (sisa range) bisa habis sekitar 300 kilometer saat nanjak, padahal klaimnya 600-an kilometer,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap merekomendasikan Denza D9, terutama bagi pengguna yang sebelumnya sudah terbiasa memakai MPV premium seperti Alphard dan ingin beralih ke mobil listrik dengan biaya operasional lebih rendah serta fitur yang lebih modern. Kesimpulan Kelebihan: fitur sangat lengkap, performa bertenaga, biaya operasional rendah, layanan purnajual baik, cocok buat keluarga Kekurangan: belum ada layar hiburan di baris kedua, kursi baris ketiga kurang fleksibel, jarak tempuh turun drastis saat menanjak (baterai boros saat ngebut), aturan garansi ketat, sempat muncul bunyi di pintu geser