Saya berkesempatan mencoba langsung Jaecoo J7 SHS-P, dan impresi pertama yang muncul, ini bukan hybrid biasa. Karakternya terasa lebih dekat ke mobil listrik, tapi tetap punya fleksibilitas mesin bensin. Di atas kertas, kombinasi mesin 1.500 cc turbo dan motor listriknya memang menarik. Mesin bensin menyumbang tenaga 140 Tk, sementara motor listriknya justru lebih dominan dengan 201 Tk dan torsi 310 Nm. Hasilnya langsung terasa saat pedal gas diinjak. Tarikan awalnya halus, instan, dan cukup bertenaga. Klaim akselerasi 0-100 Kpj di kisaran 8,5 detik terasa realistis dalam penggunaan harian. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Yang paling saya rasakan adalah sensasi berkendara di mode EV. Dengan baterai 18,3 kWh, mobil ini bisa melaju hingga sekitar 100 km tanpa bensin. Dalam kondisi macet atau penggunaan dalam kota, rasanya senyap dan halus, khas mobil listrik. Tapi ketika butuh tenaga lebih, mesin bensin langsung ikut bekerja tanpa terasa mengganggu. Soal handling, ini salah satu bagian yang cukup mengejutkan. Biasanya, mobil asal China identik dengan suspensi yang terlalu empuk. Tapi di Jaecoo J7, karakternya justru moderat. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Bantingan mobil tidak terlalu lembut, tapi juga tidak keras. Saat diajak menikung, body roll masih terasa, tapi tidak berlebihan. Ini bikin saya lebih percaya diri saat bermanuver, terutama di kecepatan menengah hingga tinggi. Suspensinya juga cukup baik meredam jalanan bergelombang. Getaran tetap terasa, tapi masih batas wajar. Buat penggunaan harian di jalan kota yang tidak selalu mulus, setelan seperti ini terasa pas. Tapi memang saat lewat jalan yang agak kasar, tubuh sedikit berguncang. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Dari sisi visibilitas, mobil ini cukup membantu pengemudi. Ada Head-Up Display (HUD) yang memproyeksikan informasi ke kaca depan, jadi saya tidak perlu sering melirik ke bawah. Selain itu, fitur kamera 360 derajat dengan tampilan sekeliling juga sangat membantu, terutama saat parkir atau manuver di ruang sempit. Posisi duduknya juga fleksibel. Saya pribadi suka posisi duduk agak tinggi, dan mobil ini bisa mengakomodasi itu dengan baik. Pandangan ke depan terasa luas dan commanding. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Tapi kalau ingin posisi lebih rendah juga bisa, meski konsekuensinya jarak pandang terasa sedikit lebih jauh. Masuk ke kabin belakang, kesan lega langsung terasa. Dengan panjang 4.500 mm, ruang kaki benar-benar luas, sekitar 10 jari. Headroom juga masih menyisakan ruang sekitar 5 jari. Ditambah panoramic sunroof besar, kabin terasa makin lapang. Namun, ada satu hal yang saya perhatikan. Untuk penumpang belakang dengan tinggi di bawah 165 cm, posisi duduknya terasa agak “tenggelam”. Akibatnya, visibilitas ke luar tidak sebaik penumpang yang lebih tinggi. Ini bukan masalah besar, tapi tetap jadi catatan. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Soal manuver, radius putar 5,95 meter sebenarnya masih cukup bersahabat untuk ukuran SUV. Di jalan perkotaan masih mudah dikendalikan, meski saat putar balik memang butuh sedikit ancang-ancang. Fitur keselamatan juga jadi nilai plus. Total ada 19 fitur ADAS yang membantu selama berkendara, dari adaptive cruise control hingga lane keeping assist. Dalam penggunaan, fitur-fitur ini cukup terasa membantu, terutama saat perjalanan jauh. Dari sisi kepraktisan, Jaecoo J7 juga memudahkan pengemudi. Ada fitur easy access yang membuat jok mundur otomatis saat pintu dibuka, jadi keluar-masuk lebih gampang. Untuk menyalakan mobil juga tidak perlu tombol, cukup duduk dan injak rem, mobil langsung aktif. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Secara keseluruhan, Jaecoo J7 menawarkan pengalaman berkendara yang cukup berbeda di kelasnya. Perpaduan rasa mobil listrik yang halus dengan kestabilan SUV konvensional membuatnya terasa modern sekaligus nyaman. Memang belum sempurna, tapi sebagai paket keseluruhan, mobil ini cukup meyakinkan. Terutama buat yang ingin naik kelas ke elektrifikasi tanpa kehilangan fleksibilitas mesin bensin. Test drive Jaecoo J7 SHS-P Kesimpulan Kelebihan: akselerasi halus dan responsif, fitur ADAS membantu pengemudi, handling dan body roll terkendali Kekurangan: posisi duduk belakang kurang ideal untuk penumpang bertubuh pendek, radius putar masih butuh ruang saat putar balik, redaman suspensi di jalan rusak KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang