Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah hingga menembus level Rp 17.000 mulai menjadi perhatian industri otomotif nasional. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak pada biaya produksi hingga harga jual kendaraan di Indonesia. Meski begitu, sejumlah pabrikan masih memilih memantau perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan terkait penyesuaian harga kendaraan. Salah satunya adalah Jaecoo Indonesia. Head of Marketing Jaecoo Indonesia, Ilham Pratama mengatakan, perusahaan saat ini masih terus melakukan evaluasi terhadap berbagai faktor yang dapat mempengaruhi bisnis otomotif di Tanah Air. “Dengan kondisi saat ini yang cukup dinamis, Jaecoo terus memantau perkembangan pasar serta melakukan koordinasi dan evaluasi secara berkala terhadap berbagai faktor yang dapat mempengaruhi bisnis,” ujar Ilham kepada Kompas.com, Rabu (20/5/2026). Ia menjelaskan, Jaecoo saat ini masih fokus menghadirkan produk dan layanan dengan value terbaik bagi konsumen Indonesia. Test drive Jaecoo J7 SHS-P “Saat ini, kami tetap fokus berupaya menghadirkan produk dan layanan dengan value terbaik bagi konsumen,” kata Ilham. Pernyataan tersebut sekaligus mengindikasikan bahwa Jaecoo belum memiliki rencana untuk menaikkan harga kendaraan dalam waktu dekat meski kurs rupiah sedang tertekan. Seperti diketahui, pelemahan rupiah berpotensi mempengaruhi industri otomotif karena sebagian bahan baku dan komponen kendaraan masih bergantung pada mata uang asing, khususnya dollar AS. Namun, sejumlah merek otomotif saat ini masih berupaya menjaga stabilitas harga di tengah kondisi pasar yang cukup kompetitif. Selain memantau pergerakan kurs, pabrikan juga melakukan berbagai strategi efisiensi agar dampaknya ke konsumen bisa ditekan seminimal mungkin. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang