— Kondisi lalu lintas di kota besar seperti Jakarta yang nyaris selalu macet ternyata punya dampak serius terhadap sistem transmisi mobil matik. Panas yang dihasilkan akibat kerja transmisi yang terus-menerus bisa mempercepat penurunan performa dan bahkan menimbulkan kerusakan permanen bila tidak diantisipasi. Menurut Fred, Direktur Domo Transmisi di Jakarta, kebiasaan macet parah di Indonesia menjadi salah satu penyebab utama mengapa mobil matik sering bermasalah. “Karena di Indonesia tuh sering macet, jadi suka panas di dalam transmisi. Apalagi CVT, itu enggak boleh panas,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (4/11/2025). Fred menambahkan, salah satu kebiasaan buruk pengemudi Tanah Air adalah menunda penggantian oli transmisi. Padahal, oli berfungsi penting menjaga suhu kerja transmisi tetap stabil dan mengurangi gesekan di dalamnya. “Habit di Indonesia juga ganti oli metiknya tuh suka lama, padahal kondisi jalanan sering macet. Nah, paling sering masalahnya di situ,” katanya. Ketika transmisi terlalu panas, kinerja komponen internal seperti valve body dan clutch pack bisa terganggu. Akibatnya, perpindahan gigi menjadi tidak halus, muncul hentakan, atau bahkan mobil gagal melaju. Ia juga mengingatkan bahwa transmisi CVT (Continuously Variable Transmission) lebih sensitif terhadap suhu tinggi dibandingkan transmisi otomatis konvensional. Jika terlalu sering digunakan di kondisi berat seperti tanjakan atau kemacetan ekstrem, potensi kerusakan semakin besar. Untuk mencegah hal tersebut, Fred menyarankan agar pemilik mobil matik rutin mengganti oli transmisi sesuai jadwal dan memperhatikan tanda-tanda awal kerusakan, seperti suara mendengung atau perpindahan gigi yang terasa tidak normal. “Transmisi itu enggak langsung rusak, tapi kalau kebiasaan dibiarkan, lama-lama fatal. Makanya penting banget servis dan ganti oli tepat waktu,” kata Fred. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.