Pabrik Toyota Motor Manufacturing Indonesia September 2025, nilai impor otomotif tercatat mencapai USD 8,26 miliar, dengan lonjakan impor komponen lebih dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa geliat produksi nasional belum sepenuhnya menciptakan nilai tambah dalam negeri, karena sebagian besar bahan baku dan komponen penopang manufaktur masih bergantung pada pemasok luar negeri.Padahal, industri otomotif merupakan subsektor strategis yang menopang struktur manufaktur nasional. Terdapat 39 pabrikan kendaraan roda empat dengan kapasitas produksi 2,39 juta unit per tahun, serta 82 pabrikan roda dua dan tiga yang mampu memproduksi hingga 11,2 juta unit per tahun. Hingga Oktober 2025, produksi kendaraan roda dua dan tiga tercatat 5,89 juta unit dengan ekspor 460 ribu unit, sementara kendaraan roda empat mencapai 960 ribu unit dengan 430 ribu unit di antaranya diserap pasar mancanegara. Namun, besarnya skala industri tersebut belum selaras dengan kekuatan rantai pasok komponen domestik.Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai situasi ini tak bisa dibiarkan berlarut. Menurutnya hal ini bisa dimanfaatkan,untuk memberikan peluang bagi industri-industri di dalam negeri, khususnya IKM sehingga substitusi impor akan berhasil. "Pendalaman struktur manufaktur kita juga akan tercapai dan pasti akan menciptakan nilai tambah bukan hanya untuk manufaktur, tapi juga untuk perekonomian nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu 3 Desember 2025. Pemerintah mendorong percepatan substitusi impor melalui penguatan kemitraan antara pabrikan otomotif dan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) komponen. Program Kemitraan IKM Alat Angkut dengan Industri Besar menghasilkan penandatanganan 36 nota kesepahaman antara 33 IKM dan 24 perusahaan industri besar di sektor alat angkut. Model kerja sama ini tidak hanya memberikan kepastian pasar bagi IKM, tetapi juga membuka ruang transfer teknologi, peningkatan standar mutu, dan pembinaan jangka panjang agar komponen lokal mampu memenuhi standar industri global.Agus menyebut bahwa negara-negara produsen otomotif besar terbukti menempatkan IKM sebagai tulang punggung rantai pasok. “Model seperti ini yang dapat terus-menerus mendukung upaya kita agar produksi di pabrik-pabrik otomotif bisa lebih efisien, menurunkan biaya produksi, menekan ketergantungan impor, dan juga meningkatkan daya saing global mereka,” katanya.Data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) mencatat terdapat 1.412 unit usaha IKM komponen alat angkut di berbagai sentra industri, mulai Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga DI Yogyakarta. IKM tersebut memproduksi komponen mulai dari bodi dan sasis, knalpot, interior dan aksesori, komponen plastik dan karet, hingga radiator dan produk modifikasi.Kontribusi IKM dalam rantai pasok juga telah terbukti di Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), dengan 51 IKM terlibat dari total 274 pemasok komponen untuk program tersebut.Meski demikian, pemerintah menyadari masih banyak tantangan yang menghambat IKM menjadi pemasok utama industri besar. Di antaranya keterbatasan modal untuk modernisasi peralatan, kesenjangan teknologi, perbedaan standar sertifikasi dan sistem manajemen mutu, hingga konsistensi kapasitas produksi dalam skala besar. Kemenperin menilai kemitraan struktural dengan industri besar menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan tersebut.