Memanasnya konflik di Timur Tengah turut menjadi perhatian berbagai sektor industri, termasuk industri pelumas. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang kemudian memicu serangan balasan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global, termasuk bahan baku yang digunakan dalam produksi pelumas. Seperti diketahui Timur Tengah merupakan negara-negara penghasil minyak bumi. Pertamina Lubricants VP Marketing PT Pertamina Lubricants, Nugroho Setyo Utomo, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi untuk mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi. "Ini kita juga konsolidasi semua. Kita juga koordinasi dengan pemerintah, mengantisipasi apa yang nanti terjadi," katanya di Jakarta, Rabu (4/3/2026). "Semuanya masih wait and see, akan sampai berapa lama, kemudian dampaknya terutama kepada bahan baku. Ini bagian dari antisipasi yang kita lakukan. Karena bagian bakunya juga, satu, dari sisi energi sendiri akan berpengaruh," katanya. Ganti oli gratis dan paket sembako dari Pertamina Lubricants untuk para korban bencana di Sumatera Utara dan Sumatera Barat "Kemudian, kalau crude (oil) ini nanti dioptimalkan untuk kebutuhan ini, kita juga harus mempertimbangkan nanti, keseimbangan dengan kebutuhan bahan baku base oil," katanya. "Jadi tetap kita pantau terus ini kondisinya gimana. Tentu itu menjadi perhatian kita bersama. Kondisi yang terjadi di Timur Tengah," ujarnya. Karena itu, Nugroho mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi geopolitik. Ia menyebut Pertamina Lubricants berusaha memenuhi kebutuhan dalam negeri. "Kami berupaya untuk menjaga stok di domestik itu aman, tapi yang lain kita sama-sama lihat," katanya. Pertamina Lubricants luncurkan oli mesin terbaru Fastron Diesel 5W-30 di GIIAS 2025 Meski demikian, Nugroho menjelaskan, sebenarnya bahan baku pelumas yang digunakan di Indonesia berasal dari dalam negeri. "Kita base oil yang mineral dari Cilacap, dan sintetik salah satu paling baik itu dari Dumai. Sintetik itu ada grup tiga, yang Dumai itu grup tiga plus, jadi di atasnya. Jadi kita punya keunggulan kompetitif itu di pelumas sintetik," katanya. "Kita berharap semua bisa diamankan. Untuk produksi juga tidak (terdampak) karena kebutuhan masih domestik," ujar Nugroho. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang