PT Honda Prospect Motor (HPM) masih mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi efek berantainya terhadap industri otomotif nasional pada 2026. Sales & Marketing and After Sales Director HPM Yusak Billy mengatakan, hingga saat ini tensi antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat (AS) belum memberikan dampak langsung terhadap penjualan mobil di Indonesia. “Soal konflik di Timur Tengah, kami masih terus memonitor perkembangannya seperti apa. Jadi kami belum bisa menyimpulkan apakah akan berdampak ke daya beli atau tidak. Namun sejauh ini belum ada dampak signifikan,” ujar Billy di Jakarta, Selasa (3/3/2026). Meski demikian, risiko eskalasi tetap diwaspadai. Gejolak geopolitik berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia, gangguan jalur logistik, hingga tekanan terhadap rantai pasok global. Jika meluas, situasi tersebut bisa kembali menimbulkan hambatan distribusi komponen, termasuk semikonduktor, yang sebelumnya sempat mengganggu produksi kendaraan. Di dalam negeri, tantangan yang lebih terasa saat ini berasal dari pelemahan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah. Kondisi tersebut berdampak pada permintaan kendaraan baru dan membuat perusahaan pembiayaan lebih selektif dalam menyalurkan kredit di tengah kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL). “Daya beli memang melemah. Karena itu kami berkolaborasi dengan lembaga pembiayaan supaya konsumen, terutama di segmen LCGC dan menengah ke bawah, tetap punya akses yang lebih mudah untuk memiliki kendaraan,” kata Billy. Di tengah dinamika tersebut, HPM menegaskan fokus strategi tahun ini tidak semata mengejar volume penjualan, melainkan memperkuat hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Honda Bersiap Luncurkan 3 Model Elektrifikasi Tahun Ini Presiden Direktur HPM Shugo Watanabe menyebut 2025 menjadi periode penuh tantangan bagi industri otomotif nasional, seiring pasar yang kian selektif dan ekspektasi konsumen yang terus berkembang. Saat ini, Honda memiliki lebih dari 1,2 juta pelanggan di Indonesia. Basis tersebut dinilai menjadi fondasi untuk membangun hubungan berkelanjutan sepanjang siklus kepemilikan kendaraan. “Bagi kami, ini adalah makna dari Connecting Moment, yaitu membangun hubungan yang tidak berhenti saat membeli mobil pertama, tetapi terus berlanjut selama pelanggan menggunakan Honda,” kata Watanabe. Dari sisi kinerja, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan wholesales Honda sepanjang Januari–Desember 2025 sebanyak 56.500 unit. Capaian tersebut menempatkan Honda di posisi kelima nasional, namun turun sekitar 40 persen secara tahunan. Penjualan ritel tercatat 71.233 unit, melemah 30 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 103.023 unit. Sepanjang 2025, distribusi ritel lebih tinggi dibandingkan wholesales sebagai bagian dari penyesuaian stok di tengah perlambatan pasar. Honda Luncurkan 4 Penyegaran Sekaligus “Namun bagi kami, ini bukan semata soal angka, melainkan bagaimana beradaptasi secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Billy. Sebagai bagian dari penyesuaian strategi, Honda juga menyiapkan ekspansi lini elektrifikasi pada 2026. Tiga model baru akan diluncurkan, terdiri dari dua hybrid dan satu battery electric vehicle (BEV). “Kita akan menambah dua model hybrid dan satu BEV di 2026. Kami tidak hanya memperluas lini elektrifikasi, tetapi memastikan karakter khas Honda tetap kuat di era baru ini,” kata Billy. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang