Perkembangan teknologi elektrifikasi membuat istilah mild hybrid, full hybrid, hingga plug-in hybrid (PHEV) semakin sering muncul di pasar otomotif Indonesia. Meski sama-sama menggabungkan mesin bensin dan motor listrik, ketiganya memiliki karakter dan fungsi yang berbeda. Perbedaan inilah yang kerap membuat konsumen bingung ketika membandingkan efisiensi dan kemampuan berkendara masing-masing sistem. Menurut Product Manager PT Chery Sales Indonesia, Yusuf, perbedaan utamanya terletak pada porsi kerja motor listrik dalam mendorong kendaraan dan kapasitas baterai yang menopang sistem tersebut. “Pada mild hybrid, motor listrik berperan membantu mesin, bukan menggantikannya. Karena itu, mobil tetap tidak bisa berjalan tanpa bensin,” kata Yusuf kepada Kompas.com, Kamis (27/11/2025). Ia menjelaskan bahwa pada sistem mild hybrid, motor listrik hanya memberikan dorongan tambahan ketika akselerasi atau saat membutuhkan respons cepat. Dampaknya memang terasa positif, seperti konsumsi bahan bakar yang lebih efisien serta perpindahan tenaga yang lebih halus. Namun, kemampuan motor listrik tidak didesain untuk menggerakkan mobil secara mandiri. Wuling Cortez Darion PHEV Berbeda dengan itu, full hybrid memiliki motor listrik yang bisa menggerakkan mobil tanpa bantuan mesin bensin, meski jaraknya terbatas. Sistem ini memungkinkan kendaraan melaju dalam mode listrik murni, tetapi hanya sekitar 1–5 kilometer, tergantung kondisi baterai dan gaya berkendara. Menurut Yusuf, keterbatasan ini terjadi karena baterai pada full hybrid relatif kecil sehingga energi listrik cepat habis. Di sisi lain, PHEV menawarkan porsi kerja motor listrik yang jauh lebih besar. Kapasitas baterai yang lebih besar membuat mobil dapat melaju puluhan kilometer dengan tenaga listrik saja. Yusuf menambahkan bahwa pada PHEV, motor listrik tidak hanya sekadar asisten mesin, tetapi bisa mengambil alih peran penggerak utama dalam durasi yang lebih lama. Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa kendaraan hybrid, baik full hybrid maupun PHEV, tetap memiliki batasan ketika bensin benar-benar habis. Dalam kondisi tersebut, sistem umumnya akan membatasi performa untuk menjaga keamanan mesin dan transmisi karena motor listrik dipaksa bekerja sendirian. “Mobil tetap bisa melaju, tapi performanya turun drastis demi menjaga komponen tetap aman,” ujarnya. Dengan perbedaan karakter ini, konsumen diharapkan memahami fungsi motor listrik pada tiap jenis hybrid sebelum menentukan pilihan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang